Kota Proklamasi, Sekarang Sudah Basi
Skor 1
by Hafizah Widya Amalia - 06/29/2015, 08:26

Jasmerah, ungkapan Presiden Soekarno yang berarti Jangan Pernah Meremehkan Sejarah. Singkat, namun sangat dalam.

Bangsa ini kaya akan sejarah, atas keberanian serta wibawa bangsa yang sangat terbukti jelas dalam lantunan sejarah. Dimulai dari perkasanya Majapahit hingga gagahnya Dwi Warna tegak usai Proklamasi Kemerdekaan dikumandangkan tepat pada 17 Agustus 1945.

Pasti sudah tak asing lagi, bahwa rumah Tadashi Maeda, telah menjadi saksi bisu banyak hal mulai dari detik – detik Proklamasi hingga Dwi Warna tegak berkibar di angkasa.

Jakarta, Kota dimana Proklamasi dikumandangkan, siapa sangka bertahun – tahun berikutnya sekarang sudah menjadi Kota Seribu Problematika. Pengertian Problematika berasal dari bahasa Inggris yaitu "problematic" yang artinya persoalan atau masalah. Sedangkan dalam bahasa Indonesia, problema berarti hal yang belum dapat dipecahkan; yang menimbulkan permasalahan.

Sudah menjadi konsumsi kita setiap hari berita – berita problematika Jakarta di media elektronik maupun media sosial. Banjir, kebakaran, grafik kriminal yang meningkat, kecelakaan sekaligus kemacetan, tidak stabilnya pemerintahan, semuanya bersemayam bahkan mendarah daging dalam Kota Jakarta.

Ada apa dengan Jakarta?

Orang Indonesia sangat identik dengan menyalahkan orang lain. Lihat saja ketika hobi Jakarta kumat alias banjir tahunan menyerbu. Rakyat menyalahkan bagaimana kinerja pemerintah mengurusi Kota Jakarta, tapi rakyat sendiri juga tidak pernah mau tahu kemana dia membuang sampah. Lihat saja ketika kita menyebrangi jembatan, sudah banyak gunung – gunung sampah yang menyumbat aliran air serta sanitasi lingkungan yang menjadi buruk. Nah kan? Siapa yang susah?

Ibu Kota kita sungguh kasihan, punya nilai sejarah yang tak kira – kira, tapi kitalah yang menyia – nyiakanya. Kita yang memerdekakanya, tapi kitalah yang menghancurkanya sekarang ini. Terlalu banyak problematika yang tak jelas darimana akarnya.

Sampai kapan? Tidak malukah kita dengan ibu kota negara lain yang sudah lebih maju dan makmur dibanding Negara Indonesia kita sendiri ini?

Apa solusinya? Pada akhirnya kita wajib mencapai satu titik untuk tidak membenci Jakarta. Dengan apa? Janganlah lagi lihat bagaimana glanmour dan luxurius-nya Kota Jakarta ini, mari perbaiki masalah Jakarta dari titik paling kecil. Yaitu, saling peduli.

Peduli. Sudah cukup. Peduli untuk tidak membuang sampah, peduli untuk tidak mengabaikan orang – orang sekitar, peduli untuk hal – hal kecil yang serentak. Ubahlah kesan Jakarta hanyalah kota problematika, karena Jakarta sesungguhnya kota istimewa.

Jangan pernah lupakan budaya unik Jakarta Ondel – Ondel yang menemani Jakarta Fair tiap tahunnya. Juga jangan lupa tentang legenda Si Pitung yang tersimpan rapi dalam kebudayaan Betawi, milik Jakarta juga.

Jakarta juga menyimpan banyak kisah, banyak sejarah, jangan biarkan tenggelam dalam problematika yang ia alami sekarang ini. Selamatkanlah, jadikan Jakarta sebagai kawan yang harus kita selamatkan dari keterpurukanya, jangan justru menambah – nambah masalah dengan terlalu banyak menuntut, tanpa intropeksi diri kita sendiri.

Kalau bukan kita yang menjaga ibu kota kita, siapa lagi?

Siapkah untuk perubahan kecil menuju Jakarta yang lebih baik?

Tentukan sendiri.

Dibaca 260 kali
Dikategorisasi sebagai Jakarta, Kekayaan Intelektual, Kenegaraan
Ditandai sebagai kenapa benci jakarta
Dilisensi sebagai Atribusi (CC BY)
Hafizah Widya Amalia Pemula di Hukumpedia.com

Contact
Location Kota Malang
Posts 1
2015-06-30 13:52:33

Banjir tahunan sudah terjadi sejak masa lampau loh. Bahkan sebenarnya ini salah Jenderal Coen. Mestinya Jenderal Coen tidak memilih batavia sebagai ibu kotanya, kan sudah tahu juga ada 13 anak sungai yang "berkeliaran" di Jakarta hehehehe

Topik Pilihan
Topik Terhangat
Artikel Hukumonline.com