Transportasi : Makna dari Pilihan Traveler
Skor 1
by Widi Jatmiko - 01/08/2017, 06:15

Ilustrasi Traveler ke Pantai

Umumnya, pegawai kantoran bekerja dengan pola hari kerja senin-jumat atau senin-sabtu. Pekerjaaan menumpuk dengan beban kerja yang ditanggung relatif besar, kadang kerja lembur, sering membuat pikiran jenuh. Maka diperlukanlah refresh. Hal yang paling sering dilakukan oleh pegawai kantoran adalah dengan ber-traveling ria ke destinasi tertentu. Rasanya, bagi seorang traveler, kalender merah adalah sebuah anugerah yang sangat bernilai.

Untuk itu, di saat pemerintah mengeluarkan kalender tahunan terkait hari libur resmi, traveler secepatnya mengetahui berita tersebut, lalu bersiap mengagendakan jadwal cuti. Kemudian, sekurang-kurangnya me-manage biaya yang dibutuhkan, waktu yang ditentukan, siapa saja yang diajak atau sendiri, jarak destinasi, dan pertimbangan hal lain terkait alat dan bahan saat traveling.

Kali ini saya tidak membahas cerita tentang perjalanan traveling ke destinasi tertentu. Melainkan, sedikit mengulas tentang dunia traveling, mengenai makna bagi traveler saat melakukan perjalanan jika ditinjau dari jenis kenderaan yang pilih. Yuk kita mulai dengan pertama;

Pesawat Terbang = Kecepatan

Traveler jika memilih kendaraan lewa jalur udara, dengan pilihan pesawat, artinya traveler yang mengutamakan kecepatan. Maka, harga tiket mahal pun tetap akan dibeli, meskipun tetap berburu tiket promo. Hehehe..

Karena kita tahu, menjadi seorang penumpang pesawat, peraturannya cukup ketat. Mulai membeli tiket paling lambat 6 jam sebelum keberangkatan, 90 menit harus check-in, dan 30 harus boarding sebelum pesawat take-off. Belum lagi terkait barang bawaan traveler yang dibatasi dan diatur sedemikian rupa. Dengan barang bawaan seringkas mungkin di bagasi, paling banyak 20 kg untuk penerbangan domestik (bahkan dibatasi hanya 15 kg untuk pesawat kecil dengan menggunakan tenaga baling-baling).

Dengan mempertimbangkan barang yang masuk di bagasi tanpa benda elektronik atau benda tajam, karena nantinya barang di bagasi dibanting-banting dan dilempar dimungkinkan akan terjadi kerusakan, dan 7 kg di kabin pesawat (hanya di ruang penumpang). Lalu jam terbang pesawat yang cukup singkat dari kota 1 ke kota 2. Sehingga untuk menuju destinasi tertentu, traveler tidak perlu menungu lama, secepatnya sampai tujuan.

Pengalamanku saat naik pesawat baling-baling (pesawat kecil dengan kapasitas penumpang 72 orang) dari kota B menuju kota S hanya membutuhkan waktu 50 menit. Rasanya, baru berangkat sambil pramugari mengarahkan seluruh penumpang petunjuk keselamatan, eh, ternyata, aku yang sempat ketiduran beberapa menit, sudah ada pemberitahuan kemudian, dan aku kaget, sambil mendengarkan “…beberapa saat lagi pesawat akan tiba di bandara X kota S, mohon untuk tetap duduk di kursi penumpang, kencangkan ikat pinggang, sebelum pesawat benar-benar berhenti”. Duh, gini ya, naik pesawat, meski pesawat baling-baling pun, sangat laju.

Kereta Api = Ketepatan

Jika traveler yang berada di Pulau SA dan JA, pasti sudah akrab dengan jenis kendaraan jalur darat, yaitu kereta api. Kereta Api (selebihnya nanti aku tulis KA) adalah jenis kendaraan yang cukup efektif di waktu dan efisien soal biaya. Dulu, kendaraan kereta api dimonopoli oleh Negara mengingat KA dengan menggunakan jalur rel, sudah ada sejak jaman kolonial. Nah, semenjak terbitnya UU Perkeretaapian, Negara tidak boleh memonopoli lagi, jadi kesempatan bagi pihak swasta untuk membuka usaha angkutan jenis KA. Swasta siap buka usaha? Hehehe..

Alasan utama efektif di waktu adalah sementara ini jalur rel kereta api untuk Pulau JA, diatur sedemikian rupa untuk perjalanan kereta tertentu, sehingga untuk mencapai tujuan misalkan dari Stasiun di kota B menuju Stasiun di kota MG, dengan  waktu yang tertera di tiket, kurang lebih sama.  Jadi, traveler dalam perjalanan menjadi penumpang KA tidak perlu khawatir akan macet. Terkait biaya, cukup efisien.

Bagaimana tidak efisien, dari kota B ke Kota MG hanya perlu biaya kurang dari selembar uang seratusribuan. Bandingkan dengan naik  kendaraan jalur darat lainnya, hampir dipastikan lebih dari selembar uang seratusribuan. Dan sedikit info terkini, saat membeli tiket, jika via online, paling lambat pembelian 2x24 jam sebelum keberangkatan, dan untuk KA tertentu yang bersifat rute lokal, pembelian tiket dapat dilakukan di stasiun yang sudah ditentukan, serta saat ini KA khusus rute lokal, penumpang tidak diperkenankan membeli lebih dari 1 kali tiket perjalanan.

Misalkan traveler ingin perjalanan sepanjang Pulau JA (artinya rute jarak jauh-red), dari kota B menuju kota J , maka ketepatan waktu, biaya, pilihan KA, transit serta waktu tunggu kereta. Sesuai kebijakan pengelola transportasi KA, sementara ini memang belum ada. Untuk rute terdekat dari stasiun di kota B ke kota J, traveler perlu transit, paling mudahnya, transit di kota MG, dengan waktu tunggu KA menuju kota J sekitar 4 jam. 

Jadi, ada pertimbangan, dengan waktu tunggu selama itu,  meminimalisir kemungkinan terburuk waktu keterlambatan perjalanan KA khususnya yang kelas ekonomi. Ingat! jalur rel KA tidak hanya untuk KA Penumpang, melainkan untuk pasokan bahan bakar, sembako, dan bahan-bahan pabrikan perusahaan pelat merah, serta biasanya petugas pengatur jalur KA memprioritaskan KA kelas Bisnis dan Eksekutif.

Terkait biaya, mengingat KA yang dipilih kelas ekonomi, jadi harga tiket tidak sampai dua lembar uang seratusribuan. Jadi, benar-benar efisien. Hehehe..

Kapal Laut = Kesabaran

“Orang yang sabar, daerah jelajahnya melebar!” Hehehe…

Naik kapal memang mengasyikkan. Beli tiket langsung di pelabuhan, mengantri dengan berbagai kendaraan jalur darat lainnya, kecuali KA, tiket relatif murah, bonus pemandangan alam yang menarik dari kejauhan di atas kapal. Namun, apabila terlalu sering naik kapal, dan rutenya itu-itu saja, keasyikan menjadi sirna. Ditambah lagi kecepatan kapal hanya 12 knot, bisa dibayangkan, betapa lamanya perjalanan yang ditempuh.

Misalkan naik kapal dari pelabuhan di kota P menuju kota L. Pelayaran selama 5 jam lebih! Betapa lamanya.. (sudah termasuk waktu untuk muat, waktu tunggu sandar kapal, dan haluan kapal-red) Rasa-rasanya, seperti gak mau lagi naik kapal. Tapi, mau bagaimana lagi, dari kota P ke kota L memang tidak ada jembatan layang, dan sepertinya mustahil diadakan. Karena jauhnya jarak antara kota P ke L sepanjang 50 km dan pertimbangan geologi lautnya yang dipastika menyerap triliyunan uang. Jadi, dengan terpaksa, serta penuh dengan kesabaran, berharap dalam batin, semoga kapal cepal sandar menuju daratan. Meski kenyataan tetap tidak. Hehehe..

Bus = Ketidakpastian

Naik bus sama dengan  kendaraan KA atau Kapal. Ada kelasnya. Namun, fokus utama yang dibahas adalah kelas ekonomi. Karena pola pikir seorang traveler adalah memilih kendaraan dengan pilihan biaya seminimal mungkin. Jadi, pilihan bahasan bus kelas ekonomi dengan pola pikir traveler, selaras. Yang masih bertanya-tanya kenapa kendaraan jenis Bus adalah ketidakpastian?

Untuk menjawabnya, dimulai dengan waktu naik atau menumpang. Pada dasarnya, bus akan mengangkut penumpang saat berada di halte dan terminal. Namun, pada kenyataannya, sulit untuk dilakukan. Mengingat di Negara kita belum sanggup untuk memenuhi banyak halte dan terminal di berbagai tempat, dengan  jangkauan misalkan jarak 150 km.

Bayangkan, butuh berapa halte dengan jarak segitu, padahal jarak segitu hanya melewati dua kabupaten dengan asumsi, masih terpotong sebagian hutan dan perkebunan seperti pada kota B menuju kota JR.  Itu pun dengan 3 terminal besar yang dapat disinggahi, dengan jarak yang berjauhan. Maka mengangkut penumpang di pinggir jalan, tanpa ada halte, adalah pilihan terbaik karena dalam bahasa prokem, angkutan bus kejar setoran. Nah, bus sering mengangkut pengumpang di pinggir jalan, waktu tempuh sulit sekali untuk dipastikan. Meskipun jarak 150 km, bisa jadi tiba di kota tujuan paling cepat 5 jam!

Lanjut pada tiket angkutan. Ini yang menarik. Tiket penumpang memang diberikan oleh kondektur bus, hanya saja, tiket hanya dicoret saja sesuai tujuan kota. Kelemahannya, coretan tiket tersebut hanya coretan saja, tanpa disertai besaran tarif. Maka, ada ketidakjelasan tarif di sini. Bagi traveler yang tidak mengetahui besaran batas bawah dan batas atas tarif bus Rp. sekian/km-nya, dapat dipastikan akan dikenai tarif di atas rata-rata.

Khusus di Pulau JA, angkutan bus memiliki karakteriktik tersendiri. Saat di lampu merah, pengamen, pedagang  asongan, peminta sumbangan akan naik bus. Tujuannya jelas mencari uang ke penumpang. Untuk pengamen, ada kalanya suaranya bagus, hingga penumpang rela hati untuk sekadar memberikan uang sekadarnnya. Bagi pengamen yang naik bus dengan menyanyi ala kadarnya, kadang, penumpang enggan memberikan uang. Meskipun hanya uang koin 500 rupiah. Dan jeleknya lagi, ada seorang pengamen atau sekelompok pengamen, dengan wajah garang dan sangar, memaksa meminta uang ke penumpang. Mau tidak mau, dari pada rebut soal uang recehan, berikan saja. Males ribut! (ini pengamen atau preman?!)

Terkait pedagang asogan, nah ini yang buat penumpang mudah tergoda. Saat udara panas di dalam bus, pedagang asongan menawarkan  buah melon dan minuman dingin, otomatis, traveler akan membelinya. Jadi, bersiap saja, terjadi pembengkakan biaya di sini. Hehehe..

Lanjut untuk  peminta sumbangan. Kali ini aku tidak bermaksud untuk berprasangka buruk. Bagi peminta sumbangan, jika orang tersebut sudah dewasa, tidak masalah untuk menarik sumbangan. Meskipun pertanggungjawaban uang sumbangan belum bisa dipastikan.

Yang menjadi persoalan itu adalah peminta sumbangan adalah seorang atau sekelompok anak-anak. Hei….anak-anak belum cukup umur melakukan kegiatan seperti ini! Siapa yang menyuruhnya?! Kita semua akan banyak pertanyaan, apa benar anak-anak tersebut terorganisir untuk meminta sumbangan? Miris!

Hmmm.. atau jangan-jangan, anak-anak tersebut atas inisiasi sendiri. Entahlah.. Daripada pusing-pusing, berikan saja. Kasihan lihat anak-anak naik turun bus untuk meminta sumbangan. Syarat, harus ikhlas. Lagi-lagi, traveler dilanda pembengkakan biaya. Hahaha...

Mobil = Kenyamanan

Saat traveler memilih mobil sebagai kendaraan, artinya dalam benaknnya, cukup jelas, meski besar pengeluaran di bahan bakar, namun, bebas hujan, anti kepanasan karena ada AC, alat dan bahan cukup banyak masuk dalam bagasi, perjalanan jauh pun baik-baik saja dengan menyetir sendiri atau sewa driver, sambil mendengarkan lagu-lagu favorit.

Rasanya jalan jauh pun terasa dekat. Karena itulah nilai tawar yang lebih tinggi bagi traveler, saat memilih kendaraan jenis mobil. Mau istirahat di destinasi tertentu yang bukan merupakan tujuan utama, bisa. Mau cari makan di rumah makan sesuai selera dan harga murah, bisa juga.

Jadi, otoritas tertinggi ada di traveler, mau berhenti, lanjut terus, ngebut, santai-santai, bebas. Asalkan tidak melanggar lalu lintar saja. hehehe.. Cuma kendala terbesarnya, saat memilih kendaraan jenis mobil, tidak efisien jika hanya seorang atau dua orang traveler saja, idealnya paling sedikit 4 orang dan tidak tepat bagi pecinta solo traveler untuk memilih kendaraan ini. Mungkin harus pilih lainnya.

Motor = Tantangan

Semacet-macetnya kota D, kalau pilih kendaraan motor, tidak ada kata macet. Semua terlewati. Itulah seninya kendaraan jenis motor. Mau ke medan manapun, tidak menjadi persoalan. Dari segi biaya, bahan bakar irit, oli relatif murah. Jarak kurang dari 100 km, tembus.  

Tetapi kalau sudah dihadapkan dengan kenyataan saat diperjalanan, tantangan cukup banyak. Saat di jalan bersiap dengan kebulan asap kendaraan truk, yang kadang menghitam saat ditanjakan, yang kebetulan traveler sering menemui hal seperti ini. Ditambah lagi bersiap kebut-kebutan dengan bus antar pulau yang kecepatannya 80 km/jam (saat di tikungan-red), dan tantangan lainnya, seperti traveler yang harus bersiap kena serangan matahari, silau, debu bertebaran, dan paling menyesakkan batin adalah kehujanan.

Bagaimana tidak menyesakkan batin, kondisi hujan, traveler harus berbasah-basahan, pandangan jalan agak kabur, jalanan licin, dan sekelumit cerita tentang tidak enaknya kehujanan. Itulah pilihan terbaik dan terburuk saat kendaraan jenis motor menjadi pilihan.

Dan yang terakhir, yaitu transportasi;

Sepeda = Perjuangan

“Berjuang-berjuang, berjuang sekuat tenaga,…”.

Ya, penggalan lirik lagu dari Rhoma Irama itu mungkin ada kecocokan dengan traveler dengan memilih sepeda sebagai alat transportasi. Butuh tenaga  ekstra untuk kendaraan jenis sepeda. Karena satu-satunya alat transportasi yang menggunakan tenaga manusia (khususnya Si Traveler), dari semua pilihan kendaraan pada tulisan ini. bersepeda dengan jalan yang datar, aman-aman saja. gowes lanjut.

Nah, saat dihadapkan dengan rute jalan yang menanjak dan berliku-liku, dijamin memeras keringat, dan sering-sering minum air mineral. Belum lagi kalau terkena tantangan yang kurang lebih sama dengan pilihan kendaraan jenis motor, tantangannya jauh lebih berat daripada motor. Jadi kalau dikatakan perjuangan, memang benar adanya. Maka, dua kata untuk pilihan kendaraan ini, gowes terus! Hahaha..

Sebagai konklusi, aku jadi teringat film AADC2 pada bagian scene di tempat yang gelap-gelapan itu. Pencerahan Rangga ke Cinta mengenai beda antara orang liburan dengan traveling. “Kalau liburan, biasa bikin jadwal yang pasti, tinggal di tempat yang nyaman, ke tempat yang bagus-bagus buat foto-foto, kalau traveling harus spontan, lebih berani mengambil resiko, siap berbagai segala kemungkinan-kemungkinan, dan yang dinikmati justru perjalanannya, dan kejutan-kejutan yang mungkin muncul”.

Jadi, menurutku, dari semua kendaraan di atas jika ditinjau dari ototitas dalam perjalanan traveler, kendaraan yang bertipe orang sedang liburan adalah a. Pesawat, b. Kereta Api, c. Kapal, dan orang yang sedang traveling adalah yang selain itu. Khusus kendaraan e. mobil ini masih menjadi peralihan, maksudnya, masih berada diklasifikasi antara orang yang sedang liburan dan traveling. Belum final batasannya.

Karena, seperti di film AADC2 juga, si Rangga dan si Cinta dalam scene-nya menggunakan kendaraan jenis mobil. Boleh dikatakan kontradiktif dengan pencerahannya di atas, dan ingat ‘kan si Rangga waktu bilang ke si Cinta, “nanti rambutmu rusak kalau naik motor”. Hehehe..

Juga tayang di kompasiana

Dibaca 252 kali
Dikategorisasi sebagai Hukum dan Masyarakat
Dilisensi sebagai Atribusi (CC BY)
Widi Jatmiko Pemula di Hukumpedia.com

Contact
Location Kabupaten Jembrana
Posts 15
2017-01-19 10:18:17
Sekarang kan ada skuter yang roda doang bang, mulai banyak juga yang pake di Jakarta. Itu gak ada peraturannya bang?
2017-01-11 11:29:19
mas, kenapa naik kuda gak boleh ke jalan raya? enak tuh traveling kelilingan sambil kudaan, bebas macet, irit biaya, bebas polusi haha
2017-01-12 10:18:16
wakakak kocak si mbak sama si mas nya hahaa
2017-01-11 12:52:31
Gak boleh, soalnya kusirnya gak punya lisensi nyetir kuda. 😅
2017-01-11 10:47:58
kalau pergi naik kapal laut saya angkat tangan deh.. fasilitasnya masih gak bagus hemmm
2017-01-11 11:27:03
Naik pesawat saja, selesai. Hehehe
2017-01-11 10:27:59
Kayaknya demen banget jalan2 bang, hahaaa.. Tapi dari semua yang abang tulis, saya sebagai traveler (ciee) paling seneng naik pesawat/kereta ke kota tujuan, lalu nyambung nyewa motor bang buat keliling, pas tuh. Belum lagi pengelolaan negara/pemerintah mengenai pesawat dan kereta itu lebih teratur dibandingkan bus. Sayangnya, untuk beberapa destinasi di Indonesia gak ramah lingkungan, dalam artian susah di jangkau, alias jauh banget dan akses kendaraannya sulit. Mungkin abang bisa bantuin ngetok pintu kepemerintahan buat nyiapin akses yang fiendly bang.
2017-01-12 18:18:46
Sepertinya pemerintah masih sulit mewujudukan dalam waktu dekat. Anggarannya terlalu besar. 😊
2017-01-12 13:43:09
Wah benr juga nih om @widot99 Indonesia masih kurang ramah soal transportasi, kudu nyewa mobil atau motor. Saya sih berharap semoga pemerintah setempat maupun pusat segera membenahi masalah ini. Belum lagi mahalnya biaya dari 1 kota ke kota lain, udah kayak mau ke luar negeri. Banyak yang milih ke luar negeri jadinya.
2017-01-11 12:54:07
Maaf, saya gak bisa.
2017-01-11 10:29:02
wahhh enel ugakkk.. Banyak masyarakat Indonesia yang justru liburan ke luar negeri karena aksesnya lebih mudah nih bang
2017-01-11 10:22:53
kalau ke daerah yang minim transportasi susah juga yaaa, kaya dibandung enaknya pakai mobil pribadi biar deket kemana-mana dan gak muter-muter
2017-01-12 13:43:46
jalan kaki aja mbak biar sehat hehe
2017-01-11 11:26:06
Untuk jarak dekat, motor paling efektif. Tapi untuk berlelah-lelahan, naik sepeda. Hehehe
2017-01-09 10:56:26
gue sih jalan2 biasnaya milih2. Masih lebih suka jalan2 kalau ada transportasi umumnya. Kalau nggak agak susah tuh
2017-01-11 12:53:18
Kalau gak ada angkot, pilih motor atau naik sepeda saja.😊
Topik Pilihan
Topik Terhangat
Artikel Hukumonline.com