Analisis Kasus Kopi Mirna sebagai Agenda Setting Media
Skor -1
by Tri Satria Muhammad - 12/27/2016, 03:31

Telah kita ketahui bersama bahwa sampai sekarang kasus mirna masih berada didalam benak publik bahkan masih bersarang didalam fikiran mereka, karena kasusnya yang begitu viral dan dapat membentuk persepsi yang  beragam, membuat publik bertanya-tanya. Siapakah sebenarnya yang menjadi tersangka dan siapa yang menjadi korban. Kasus ini seakan dijadikan sebagai pion untuk meningkatkan rating suatu media dan kasus ini bisa dikatakan sebagai agenda setting media. teori ini menyatakan bahwa media massa berlaku merupakan pusat penentuan kebenaran dengan kemampuan media massa untuk mentransfer dua elemen yaitu kesadaran dan informasi ke dalam agenda publik dengan mengarahkan kesadaran publik serta perhatiannya kepada isu-isu yang dianggap penting oleh media massa.

Jika dikaji melalui teori ini kita sadari bahwa publik sudah diberikan stimulasi agar terpengaruh terhadap informasi yang diberikan atau disuguhkan oleh media kepadanya. Seperti contohnya kasus kopi mirna yang sempat menjadi viral di mata publik. Nah pertanyaanya kenapa kasus ini bisa begitu viral dimata publik ? padahal kasus tersebut hanya  melibatkan 2 kelompok yang berbeda yang menuntut kebenaran, lalu kenapa harus menjadi konsumsi publik ?

Jika menganalisis dari teori agenda setting, diindikasikan adanya suatu kepentingan dari media tersebut, bisa dikarenakan pengalihan isu, untuk menaikkan rating, adanya kepentingan media, bisa jadi karena yang terkena kasus memiliki hubungan baik dengan media. Semuanya  bisa terjadi. Maka dari itu dijadikannya kasus ini menjadi konsumsi publik yang dapat meningkatkan rating media.

Kenapa hal ini dijadikan suatu konsumsi publik ?, kenapa bukan berita amnesty pajak yang justru lebih bermanfaat bagi publik yang dijadikan suatu headline news ?

bisa dikatakan karena kasus ini dirasa cukup menarik yang memiliki news value yang cukup baik dan dapat dijadikan sebagai tombak untuk kepentingan media. Dan dapat kita lihat dari sisi publik yang saat ini gemar mengkonsumsi berita-berita yang berbau pembunuhan, kekerasan dsbnya.

Dampak dari hal ini adalah :

  • Adanya persepsi yang berbeda di mata publik, dapat menimbulkan asas praduga tak bersalah (Presumption Of Innocence). Adalah asas di mana seseorang dinyatakan tidak Bersalah hingga pengadilan menyatakannya bersalah.

Namun hal ini dilanggar oleh publik bahkan dijadikan sebagai analisa bahwa si A yang salah si B yang benar akan tetapi belum ada pernyataan di persidangan bahwa hal itu tidak benar. Hal ini sudah dijelaskan :

Dalam KUHAP, asas praduga tak bersalah dijelaskan dalam Penjelasan Umum KUHAP butir ke 3 huruf c yaitu:

“Setiap orang yang disangka, ditangkap, ditahan, dituntut dan atau dihadapkan di muka sidang pengadilan, wajib dianggap tidak bersalah sampai adanya putusan pengadilan yang menyatakan kesalahannya dan memperoleh kekuatan hukum tetap.”

 

Sedangkan dalam UU Kehakiman, asas praduga tak bersalah diatur dalam Pasal 8 ayat (1), yang berbunyi:

Setiap orang yang disangka, ditangkap, ditahan, dituntut, atau dihadapkan di depan pengadilanwajib dianggap tidak bersalah sebelum ada putusan pengadilan yang menyatakan kesalahannya dan telah memperoleh kekuatan hukum tetap.”

 

  • Selanjutnya Kecenderungan yang terjadi khususnya di masayarakat kita dewasa ini adalah kerap terjadi pengadilan opini bahkan pengadilan media (trial by the press) namun hal ini tidak etis dan tidak pantaslah dilakukan, sekalipun seorang sudah dikatakan tersangka, kita tidak boleh menghakiminya lagi, karena mereka juga punya hak untuk naik banding di pengadilan dan menyatakan kalau dia tidak bersalah. yang membuat putusan tersebut belum memiliki keputusan hukum tetap (“in kracht&rdquo . Presumption of innocence adalah salah satu unsur dari "Rule of Law" seperti terdapat didalam : Kitab Hukum Acara Pidana (KUHAP) pasal 66 :"Tersangka atau terdakwa tidak dibebani kewajiban pembuktian". Dan didalam Penjelasan dari pasal 66 dikatakan pula bahwa ketentuan ini adalah penjelmaan dari asas praduga tak bersalah. Hal ini tambah diperkuat oleh Pasal 158 KUHAP yang berbunyi, " Hakim dilarang menunjukkan sikap atau mengeluarkan pernyataan di sidang tentang keyakinan mengenai salah atau tidaknya terdakwa". Yahya Harahap, S.H. (2006) menulis perspektif tentang kesadaran hukum pada terminologi presumption of innocence yang bagus dalam bukunya : “Pembahasan Permasalahan Dan Penerapan KUHAP Penyidikan Dan Penuntutan “ halaman 34, yaitu: “Tersangka harus ditempatkan pada kedudukan manusia yang memiliki hakikat martabat. Dia harus dinilai sebagai subjek, bukan objek. Yang diperiksa bukan manusia tersangka. Perbuatan tindak pidana yang dilakukannyalah yang menjadi objek pemeriksaan. Ke arah kesalahan tindak pidana yang dilakukan pemeriksaan ditujukan. Tersangka harus dianggap tidak bersalah, sesuai dengan asas praduga tak bersalah sampai diperoleh putusan pengadilan yang telah berkekuatan tetap.”

Maka dari itu kita sebagai publik tidak boleh terlalu cepat terpancing oleh agenda setting yang dibuat oleh media, jika kita terterpa maka akan sulit bagi kita keluar dari terpaan itu



Dibaca 950 kali
Dikategorisasi sebagai Media dan Komunikasi, Pidana
Ditandai sebagai
Dilisensi sebagai Atribusi (CC BY)
Tri Satria Muhammad Pemula di Hukumpedia.com

fasilitator bicara, provokator diam


Contact
Location
Posts 4
2017-01-11 10:44:13
Indonesia kebanyakan drama nih
2017-01-03 11:14:07
hari gini nyari media yang bener dimana ya bang?
2016-12-27 22:25:37
Mungkin bang Tri selaku penulis bisa nambahin teori Sumulacrum Jean Baudrillard buat tulisan ini makin mantap, hehe
2016-12-27 16:39:20
Kalau peran dari Pengadilan sendiri dalam "keterbukaan" kasus ini bagaimana?
2016-12-27 10:49:41
setelah kasus ahok, kasus mirna hilang dari muka bumi. kirain jessica mau bikin vlog di sel
2016-12-27 17:57:46
serius bikin vlog mbak @dewitya ?
2016-12-27 14:10:28
begitulah cara media mempengaruhi publiknya, mereka berusaha bagaimana cara agar suatu isu yang mereka angkat dapat tertanam dan berkembang di publik pengkonsumsi media, jadi tidak diherankan kasus ini masih beredar di masyarakat dan masih menjadi perbincangan
2016-12-27 10:34:15
masih ada aja ini berita yak hahahaa iya sih ketara banget settingannya
2016-12-27 14:12:50
benar sekali heheheh
Topik Pilihan
Topik Terhangat
Artikel Hukumonline.com