Selamat Hari Buruh Kawan Wartawan
Skor 0
by Roni Saputra - 05/08/2017, 02:08

Tulisan ini memang telat untuk diterbitkan, karena momentum peringatan hari buruh telah selesai. Namun aroma peringatan tersebut tentu masih terasa, hiruk pikuk teriakan kaum buruh yang termarginalkan masih terdengar, desakan 8 jam kerja sehari, upah buruh yang mencekik, dan desakan terhadap pemerintah untuk memperhatikan kesejahteraaan buruh menjadi tema utama dalam peringatan hari buruh pada tanggal 1 Mei 2017 kemaren. Tidak saja buruh pabrik, tekstil, dan pekerja kasar, wartawan yang berhimpun di bawah organisasipun ikut memperingati hari buruh internasional. Wartawan yang merupakan pekerja profesi mengklaim bahwa mereka juga bagian dari buruh, karena bekerja diperusahaan, dan atas pekerjaan itu mereka mendapatkan gaji atau upah. Namun sayang, wartawan sebagai buruh professional nasibnya jauh lebih naas dari buruh pabrik. Tidak saja upah yang di bawah UMP, tidak sedikit dari mereka yang juga dilarang untuk membentuk serikat pekerja di media mereka masing-masing.

Berdasarkan rilis AJI Indonesia terkait dengan upah wartawan di Jakarta, ternyata masih banyak media yang membayarkan upah wartawan di bawah UMP, tahun 2017 ini UMP Jakarta adalah Rp. 3.35 Juta/bulan. Beberapa media yang membayar upah wartawan di bawah UMP adalah Koran Sindo dengan gaji Rp. 3 Juta rupiah, Warta Kota dengan gaji Rp. 3.2 Juta, Okezone.com dengan gaji Rp. 2,7 Juta, Merdeka.com dan inilah.com dengan gaji 3.2 Juta, serta MNCTV dengan gaji Rp. 3.3 Juta (take home pay). Data di atas baru mewakili satu Provinsi, yaitu Jakarta, belum lagi di Provinsi lain, yang mungkin bisa jauh lebih rendah lagi.

Selain masalah upah yang di bawah UMP dan masalah larangan mendirikan serikat, masalah lain yang dihadapi oleh kuli tinta ini adalah ketidakjelasan status pekerja di media/perusahaan tempat mereka bekerja, ada yang berstatus magang dalam waktu yang tidak ditentukan, ada yang berstatus kontrak yang diperpanjang setiap tahun dan lebih dari 2 kali perpanjangan, ada yang berstatus kontributor, dan ada yang berstatus stringer. Mereka inilah yang mendapatkan gaji jauh dari UMP, bahkan tidak jarang dari mereka hanya mendapatkan gaji berdasarkan berita yang tayang di media, dengan jumlah jauh lebih rendah. Tak sedikit pula dari mereka yang tidak dilengkapi asuransi kesehatan, bahkan kalaupun mereka mengalami kecelakaan kerja, maka uang dari kantong pribadilah yang harus dikeluarkan. Sungguh miris nasibmu kawan.

Rangkaian nasib tidak berkesudahan yang dialami oleh wartawan tersebut, harusnya menjadi titik tolak untuk berhimpun dalam serikat, sehingga setiap keluhan dapat disalurkan dengan baik. Sebagaimana Pram pernah berucap “didik rakyat dengan organisasi, dan didik penguasa dengan perlawanan.” Pram hendak memberikan solusi atas ketidakmampuan rakyat untuk melawan penguasa dengan cara membangun organisasi. Hanya melalui organisasilah suara-suara yang tadinya sayup-sayup sampai bisa terdengar lebih lantang dan lebih menggema.

Para penguasa dan pengusaha tentu akan tetap bersantai-santai di belakang meja dan di atas kursi empuknya ketika pekerjanya hanya diam, dan sibuk bergumam meratapi nasibnya, akan lain halnya jika sipekerjanya menyampaikan keluh kesah secara bersama, bisa jadi ini akan menjadi milestone dalam perjuangan nasib buruh/kuli tinta yang selama ini hanya menyuarakan nasib buruh pabrik tanpa sadar bahwa nasib mereka jauh lebih parah dari yang mereka suarakan.

Membangun serikat dimedia bukan semata untuk menyampaikan suara-suara yang sayup-sayup sampai, tetapi memperkuat posisi tawar dari pekerja terhadap kebijakan perusahaan, sehingga ada pemerataan atas kesenjangan dan peningkatan profesionalitas di kedua belah pihak. Buruh akan bekerja dengan lebih professional, dan perusahaan akan lebih maju dan semakin mendapatkan kepercayaan dari public, apalagi perusahaan media yang nyata-nyata hidup dan matinya tergantung kepercayaan public.

Sudah saatnya wartawan memikirkan untuk segera mendirikan serikat, toh mendirikan serikat bukanlah tindak pidana, melainkan perintah undang-undang. Bahkan bagi pengusaha termasuk pengusaha media yang menghalang-halangi pendirian serikat pekerja dapat di ancam dengan tindak pidana. Serikat pekerja bukan pula untuk gagah-gagahan, tetapi untuk memperjuangkan hak-hak pekerja yang dilanggar oleh pengusaha, dan sebagai penyeimbang kekuatan modal yang dimiliki oleh pengusaha.

 

Dengan berdirinya serikat pekerja, bukan berarti sesegara itu nasib wartawan yang menjadi anggotanya segera berubah, gajinya segera naik, tetapi ini baru merupakan langkah awal untuk mencapai itu, toh kejahatan yang terorganisir hanya bisa dilawan dengan kebaikan yang juga terorganisir.

Dibaca 55 kali
Dikategorisasi sebagai Hak Asasi Manusia dan Humanitarian
Ditandai sebagai
Dilisensi sebagai Atribusi (CC BY)
Roni Saputra Pemula di Hukumpedia.com

Pengacara yang lebih senang menangani kasus-kasus publik dan probono, itu saja


Contact
Location Kota Padang
Posts 9
2017-05-18 11:04:07
siap2 serikat kuning bang
2017-05-18 11:32:28
serikat koq maenan warna
2017-05-18 10:29:11
serikat pekerja media atau serikat jurnalis di media? Ini lebih menyorot soal jurnalis
2017-06-09 14:18:03
pekerja media dan jurnalis berada pada posisi yang sama bang, sama-sama buruh
2017-05-08 15:10:09
ini serikat wartawan atau serikat pekerja bang?
2017-05-16 14:47:27
serikat buruh wartawan bang
Topik Pilihan
Topik Terhangat
Artikel Hukumonline.com