Keteguhan Berdarah
Skor 0
by Petrus Fadjarbhakti R - 12/13/2015, 01:23

Hari Rabu yang biasa saja seperti rabui-rabu yang lain, namun bagi ketua majelis hakim ini,  matahari bersinar dengan cahaya hitam, kicauan burung yang biasanya terdengar merdu, hari ini terasa begitu sumbang, dan harum bunga sedap malam yang selalu menyisakan harum semerbak, tapi hari ini tidak tercium olehnya. Dia membuka pintu kamar anaknya yang berwarna hijau kusam, dan terdengar derit panjang karena engsel yang murah dan sudah karatan, sementara bau lembab menyerbu keluar dari pintu yang dibukanya. Terhenti di depan dipan tua terbuat dari kayu murahan, dipandanginya wajah anak perempuan nya, dewi cantik dengan bulu mata lentik, yang telah ditinggal oleh ibunya enam tahun lalu. Tanpa terasa, airmata mengalir turun ke pipi nya. Menangis memang bukanlah kebiasaannya, tapi bapak hakim tua ini sudah terlalu lama kuat menahan tangisnya, namun kali ini, sudah terbayang bagaimana anak semata wayangnya ini, akan ikut menderita karena keputusan penting yang akan diambilnya hari ini.

Kemarin siang, Ketua Pengadilan Negeri memanggil dan mewanti-wanti nya untuk memperhatikan pendapat media dan masyarakat umum. “Mulyono, kamu kan teman dan sahabatku sejak lama, dan selama ini aku nggak pernah intervensi perkara-perkaramu, namun kali ini berita sudah terlalu besar dan menginginkan terdakwa dihukum mati. Kemarin pagi Ketua Pengadilan Tinggi juga sudah menelponku dan meminta agar majelis hakim perkara ini menjatuhkan hukuman mati, gimana Mul ?”. Hakim Mulyono hanya menatap tajam dan dalam mata sahabatnya sejak mahasiswa S1 dulu, dia hanya menggigit bibirnya dan kemudian menelan ludahnya. Dia berjalan ke arah jendela dan sayup-sayup terdengar azan dari mushola mesjid untuk sholat siang. “Maaf kan aku Gun, saya harus sholat dulu, udah waktunya”. Ketua Pengadilan Negeri pun memasukkan tangannya ke kantongnya dan sambil membuka pintu ruangan , dia berkata “Mul, aku bukan mengancam, tapi kalau kamu menentang rasa keadilan masyarakat dan tidak sesuai dengan keinginan Ketua Pengadilan Tinggi, kamu akan dicopot dan dimutasi ke daerah terpencil. Yang aku dengar kamu akan di mutasi ke ujung timur, di papua sana. Kasihan anakmu Mul, masih kecil gitu harus ngikut kamu”. Sekali lagi, Mulyono dan Gunawan bertatap-tatapan, dan Gunawan masih menemukan ketegaran hati sahabatnya ini, yang dulu pernah menjadi Ketua Senat Mahasiswa 30 tahun lalu. Idealisme nya masih terbaca dalam tindak-tanduknya selama bertugas sebagai penegak hukum. Mulyono menjalankan seluruh keputusan nya sesuai dengan textbook dan hati nuraninya, sehingga tidak pernah terdengar sekalipun Mulyono menerima sesuatu dari pihak berperkara. Tidak jarang Gunawan malu kepada dirinya sendiri jika bercermin kepada integritas sahabatnya ini, karena sekali dua kali, Gunawan juga menerima pemberian terdakwa atau pengacara untuk meloloskan keinginan mereka. Tapi Mulyono tetap teguh seperti karang di laut selatan, yang telah dihempas ribuan tahun oleh ombak-ombak besar Nyi Roro Kidul. Mengingat ini, Gunawan maju memeluk sahabat karibnya ini, dan membisiki nya di telinga kiri, “Mul, please Mul, sekali ini saja kamu ikut kemauan ku, dan semua akan baik-baik saja”. Mulyono membalas pelukan sahabatnya ini, dan lidahnya tidak dapat berkata-kata dan setelah kedua sahabat ini berhenti berpelukan, Mulyono mengguman kecil “Gun, kamu kan tahu, saya mengambil keputusan pada waktu sholat subuh besok pagi, semuanya saya serahkan kepada Allah SWT, karena Allah lah sumber keadilan. Dia maha adil dan maha benar. Bukan saya yang memutuskan Gun, bukan saya, tapi Yang Maha Adil lah yang selalu membisikkan apa yang saya harus putuskan”. Mendengar penjelasan ini, Gunawan pun keluar dari ruangan sahabatnya ini dan segera menelpon Ketua Pengadilan Tinggi untuk melaporkan pertukaran kata dengan sahabatnya ini. Seketika, Ketua Pengadilan Tinggi memerintahkan kepada Ketua Pengadilan Negeri untuk menghadapkan Hakim Mulyono.

Ketua Pengadilan Tinggi : “Saudara Mulyono, saya sudah mendapat laporan dari Ketua Pengadilan Negeri, bahwa saudara belum meresponse permintaan kami”.
Mulyono:  “Mengenai apa bapak Ketua ?”
Ketua PT : ”Mengenai Perkara Penyelundupan Narkoba dengan Terdakwa Acai, Mahkamah Agung menginginkan supaya terdakwa dihukum mati, apakah saudara sudah mempersiapkan pertimbangan hukumnya ?”.
Mulyono: “sudah Pak Ketua”
Ketua PT : ”bagaimana pertimbangan majelis hakim ?”;
Mulyono : “Sampai sekarang ini, Hakim Anggota satu setuju, dan yang satunya tidak setuju...”.
Ketua PT : “Pak Mulyono sendiri, sebagai Ketua Majelis Hakim bagaimana ?”;
Mulyono : “Saya belum mengambil sikap pak, biasanya saya renungkan selamat sholat subuh, dan memutuskan sesudahnya, sehingga saya yakin bahwa putusan saya itu diridhoi Allah”;

Ketua Pengadilan Tinggi terdiam dengan wajah tegang, sehingga Ketua Pengadilan Negeri menengahi dan berkata “Saya yakin pak, pak Mulyono akan berbuat yang terbaik dan mempertimbangkan semua keadaan pak, kami pamit dulu pak”. Ketua pengadilan Tinggi kemudian beranjak ke belakang mejanya, dan menghardik ke Mulyono: “Pak Mulyono, saudara akan segera dimutasi jika tidak memutuskan hukuman mati bagi terdakwa, karena saudara telah menantang rasa keadilan masyarakat. Oleh karena itu, Mahkamah Agung akan memutasi saudara ke Merauke”. Mulyono menatap tajam ke Ketua Pengadilan Negeri, dia merasa ditekan, padahal setiap hakim harus bebas memutuskan sebuah perkara dan bebas dari intervensi siapapun. Betapa tujuan-tujuan tertentu telah mencederai penegakan hukum.

Berita-berita televisi memang telah ramai membicarakan hukuman mati pada malam sebelum putusan dibacakan. Secara aklamasi, media televisi yakin bahwa Acai akan diputus mati. Lebih-lebih Acai telah berulah dan bertingkah selama persidangan berlangsung, dimulai dari memukul wartawan televisi, sampai dengan mengacungkan jari tengahnya kepada jaksa penuntut umum yang menutut hukuman mati. Tapi Mulyono sadar betul bahwa pengadilan harus berbuat seadil-adilnya, ibarat walaupun terdakwa meludahi dirinya, putusan seorang hakim harus tetap adil dan tidak terpengaruh oleh hal-hal yang berhubungan di luar perkara. Dalam benak Mulyono, berkecamuk banyak hal terutama mengenai pertanyaan apakah Hukuman Mati dapat dijatuhkan terhadap seorang manusia sekarang ini. Pertanyaan filosofis dan teologis membawa Mulyono untuk belajar mengenai argumen-argumen yang diperlukan.

Bagi yang setuju dengan hukuman mati, argumen yang digunakan adalah untuk efek jera, yaitu agar pelaku yang lain menjadi takut menyelundup narkoba lagi. Kalau begitu pertanyaannya adalah apakah efek jera memang efektif untuk memberantas narkoba ? Menelusuri google selama berbulan-bulan, Mulyono menemukan bahwa efek jera tidak menurunkan tingkat tindak kriminal, artinya argumen efek jera tidak perlu dipertahankan. Tambahan lagi, efek jera bukan lagi menjadi acuan dalam sistem peradilan modern. Kita tidak bisa menjerakan atau membuat seseorang menderita agar yang lain tidak melakukan kejahatan. Ambil contoh terhadap anak-anak kita sendiri, jika seorang anak berbuat salah, sebagai orang tua, kita tidak bisa membuat jera seorang anak supaya anak yang lain tidak berbuat kesalahan yang sama. Dari sudut keadilan, hukuman terhadap seseorang tidak boleh berlebihan dengan tujuan agar yang lain tidak berbuat, tapi hukuman harus setimpal dengan perbuatan pelaku.

Dalam perjalanan pulang dari Pengadilan Tinggi ke Pengadilan Negeri, Mulyono melihat anak-anak sekolah yang pulang ke rumah mereka masing-masing dengan ceria. Mulyono bergidik mengingat korban narkoba di Indonesia yang berjumlah 50 orang perhari, berarti sebulan sekitar 1500 orang, dan setahun sekitar 18 ribu orang, sedangkan, di dunia, ada sekitar 200 juta orang yang meninggal. Berhadapan dengan korban yang banyak ini, patut kah Acai dihukum mati ?

Banyaknya korban meninggal menjadi fokus perhatian Mulyono. Bagaimana masyarakat tidak dendam, pengedar narkoba ini membunuh begitu banyak orang untuk keuntungannya sendiri. Dalam penelitian Mulyono, bos pengedar membeli narkoba hanya sekitar USD 250 per kilogram dari petani, setelah di pasaran, narkoba yang sama akan berharga USD 250 ribu, atau seribu kali lipat dari harga di tingkat petani. Harga ini membubung ke angkasa karena adanya larangan. Semakin undang-undang keras menghukum pelaku narkoba, harga itu akan semakin tinggi, dan jika harga semakin tinggi, seluruh jaringan pengedar akan berpesta pora. Mulyono terhenyak di sandaran jok mobil, dan pikirannya semakin jauh terlibat dalam perkara ini. Memang harus dia akui bahwa ini pertama kali, dia menyidangkan perkara seberat ini.

Tiba-tiba dia mendengar suara Gunawan yang memanggil-manggil, rupanya dia tertidur selama perjalanan dari Pengadilan Tinggi ke Pengadilan Negeri. Ada rasa lega dalam dadanya setelah mengetahui bahwa dia tidak lagi berada di ruangan Ketua Pengadilan Tinggi. Dia merasa sangat tertekan tadi, dan kata-kata mutasi ke papua, masih terngiang dalam kepalanya. Tekanan semacam ini bukan sekali dua, namun dipanggil oleh Ketua Pengadilan Tinggi, barulah dia rasakan kali ini. Dari mobil, Mulyono langsung ke ruang sidang Cakra, karena masih ada 3 perkara yang harus dia sidangkan hari ini, dan biasanya sidang berakhir sekitar pukul 20:00.

 

Mengenai rasa keadilan masyarakat, apakah patut dipertimbangkan dalam membuat keputusan ? Apakah lima puluh orang meninggal setiap hari akibat narkoba tidak patut

Hari Rabu yang biasa saja seperti rabui-rabu yang lain, namun bagi ketua majelis hakim ini,  matahari bersinar dengan cahaya hitam, kicauan burung yang biasanya terdengar merdu, hari ini terasa begitu sumbang, dan harum bunga sedap malam yang selalu menyisakan harum semerbak, tapi hari ini tidak tercium olehnya. Dia membuka pintu kamar anaknya yang berwarna hijau kusam, dan terdengar derit panjang karena engsel yang murah dan sudah karatan, sementara bau lembab menyerbu keluar dari pintu yang dibukanya. Terhenti di depan dipan tua terbuat dari kayu murahan, dipandanginya wajah anak perempuan nya, dewi cantik dengan bulu mata lentik, yang telah ditinggal oleh ibunya enam tahun lalu. Tanpa terasa, airmata mengalir turun ke pipi nya. Menangis memang bukanlah kebiasaannya, tapi bapak hakim tua ini sudah terlalu lama kuat menahan tangisnya, namun kali ini, sudah terbayang bagaimana anak semata wayangnya ini, akan ikut menderita karena keputusan penting yang akan diambilnya hari ini.

Kemarin siang, Ketua Pengadilan Negeri memanggil dan mewanti-wanti nya untuk memperhatikan pendapat media dan masyarakat umum. “Mulyono, kamu kan teman dan sahabatku sejak lama, dan selama ini aku nggak pernah intervensi perkara-perkaramu, namun kali ini berita sudah terlalu besar dan menginginkan terdakwa dihukum mati. Kemarin pagi Ketua Pengadilan Tinggi juga sudah menelponku dan meminta agar majelis hakim perkara ini menjatuhkan hukuman mati, gimana Mul ?”. Hakim Mulyono hanya menatap tajam dan dalam mata sahabatnya sejak mahasiswa S1 dulu, dia hanya menggigit bibirnya dan kemudian menelan ludahnya. Dia berjalan ke arah jendela dan sayup-sayup terdengar azan dari mushola mesjid untuk sholat siang. “Maaf kan aku Gun, saya harus sholat dulu, udah waktunya”. Ketua Pengadilan Negeri pun memasukkan tangannya ke kantongnya dan sambil membuka pintu ruangan , dia berkata “Mul, aku bukan mengancam, tapi kalau kamu menentang rasa keadilan masyarakat dan tidak sesuai dengan keinginan Ketua Pengadilan Tinggi, kamu akan dicopot dan dimutasi ke daerah terpencil. Yang aku dengar kamu akan di mutasi ke ujung timur, di papua sana. Kasihan anakmu Mul, masih kecil gitu harus ngikut kamu”. Sekali lagi, Mulyono dan Gunawan bertatap-tatapan, dan Gunawan masih menemukan ketegaran hati sahabatnya ini, yang dulu pernah menjadi Ketua Senat Mahasiswa 30 tahun lalu. Idealisme nya masih terbaca dalam tindak-tanduknya selama bertugas sebagai penegak hukum. Mulyono menjalankan seluruh keputusan nya sesuai dengan textbook dan hati nuraninya, sehingga tidak pernah terdengar sekalipun Mulyono menerima sesuatu dari pihak berperkara. Tidak jarang Gunawan malu kepada dirinya sendiri jika bercermin kepada integritas sahabatnya ini, karena sekali dua kali, Gunawan juga menerima pemberian terdakwa atau pengacara untuk meloloskan keinginan mereka. Tapi Mulyono tetap teguh seperti karang di laut selatan, yang telah dihempas ribuan tahun oleh ombak-ombak besar Nyi Roro Kidul. Mengingat ini, Gunawan maju memeluk sahabat karibnya ini, dan membisiki nya di telinga kiri, “Mul, please Mul, sekali ini saja kamu ikut kemauan ku, dan semua akan baik-baik saja”. Mulyono membalas pelukan sahabatnya ini, dan lidahnya tidak dapat berkata-kata dan setelah kedua sahabat ini berhenti berpelukan, Mulyono mengguman kecil “Gun, kamu kan tahu, saya mengambil keputusan pada waktu sholat subuh besok pagi, semuanya saya serahkan kepada Allah SWT, karena Allah lah sumber keadilan. Dia maha adil dan maha benar. Bukan saya yang memutuskan Gun, bukan saya, tapi Yang Maha Adil lah yang selalu membisikkan apa yang saya harus putuskan”. Mendengar penjelasan ini, Gunawan pun keluar dari ruangan sahabatnya ini dan segera menelpon Ketua Pengadilan Tinggi untuk melaporkan pertukaran kata dengan sahabatnya ini. Seketika, Ketua Pengadilan Tinggi memerintahkan kepada Ketua Pengadilan Negeri untuk menghadapkan Hakim Mulyono.

Ketua Pengadilan Tinggi : “Saudara Mulyono, saya sudah mendapat laporan dari Ketua Pengadilan Negeri, bahwa saudara belum meresponse permintaan kami”.
Mulyono:  “Mengenai apa bapak Ketua ?”
Ketua PT : ”Mengenai Perkara Penyelundupan Narkoba dengan Terdakwa Acai, Mahkamah Agung menginginkan supaya terdakwa dihukum mati, apakah saudara sudah mempersiapkan pertimbangan hukumnya ?”.
Mulyono: “sudah Pak Ketua”
Ketua PT : ”bagaimana pertimbangan majelis hakim ?”;
Mulyono : “Sampai sekarang ini, Hakim Anggota satu setuju, dan yang satunya tidak setuju...”.
Ketua PT : “Pak Mulyono sendiri, sebagai Ketua Majelis Hakim bagaimana ?”;
Mulyono : “Saya belum mengambil sikap pak, biasanya saya renungkan selamat sholat subuh, dan memutuskan sesudahnya, sehingga saya yakin bahwa putusan saya itu diridhoi Allah”;

Ketua Pengadilan Tinggi terdiam dengan wajah tegang, sehingga Ketua Pengadilan Negeri menengahi dan berkata “Saya yakin pak, pak Mulyono akan berbuat yang terbaik dan mempertimbangkan semua keadaan pak, kami pamit dulu pak”. Ketua pengadilan Tinggi kemudian beranjak ke belakang mejanya, dan menghardik ke Mulyono: “Pak Mulyono, saudara akan segera dimutasi jika tidak memutuskan hukuman mati bagi terdakwa, karena saudara telah menantang rasa keadilan masyarakat. Oleh karena itu, Mahkamah Agung akan memutasi saudara ke Merauke”. Mulyono menatap tajam ke Ketua Pengadilan Negeri, dia merasa ditekan, padahal setiap hakim harus bebas memutuskan sebuah perkara dan bebas dari intervensi siapapun. Betapa tujuan-tujuan tertentu telah mencederai penegakan hukum.

Berita-berita televisi memang telah ramai membicarakan hukuman mati pada malam sebelum putusan dibacakan. Secara aklamasi, media televisi yakin bahwa Acai akan diputus mati. Lebih-lebih Acai telah berulah dan bertingkah selama persidangan berlangsung, dimulai dari memukul wartawan televisi, sampai dengan mengacungkan jari tengahnya kepada jaksa penuntut umum yang menutut hukuman mati. Tapi Mulyono sadar betul bahwa pengadilan harus berbuat seadil-adilnya, ibarat walaupun terdakwa meludahi dirinya, putusan seorang hakim harus tetap adil dan tidak terpengaruh oleh hal-hal yang berhubungan di luar perkara. Dalam benak Mulyono, berkecamuk banyak hal terutama mengenai pertanyaan apakah Hukuman Mati dapat dijatuhkan terhadap seorang manusia sekarang ini. Pertanyaan filosofis dan teologis membawa Mulyono untuk belajar mengenai argumen-argumen yang diperlukan.

Bagi yang setuju dengan hukuman mati, argumen yang digunakan adalah untuk efek jera, yaitu agar pelaku yang lain menjadi takut menyelundup narkoba lagi. Kalau begitu pertanyaannya adalah apakah efek jera memang efektif untuk memberantas narkoba ? Menelusuri google selama berbulan-bulan, Mulyono menemukan bahwa efek jera tidak menurunkan tingkat tindak kriminal, artinya argumen efek jera tidak perlu dipertahankan. Tambahan lagi, efek jera bukan lagi menjadi acuan dalam sistem peradilan modern. Kita tidak bisa menjerakan atau membuat seseorang menderita agar yang lain tidak melakukan kejahatan. Ambil contoh terhadap anak-anak kita sendiri, jika seorang anak berbuat salah, sebagai orang tua, kita tidak bisa membuat jera seorang anak supaya anak yang lain tidak berbuat kesalahan yang sama. Dari sudut keadilan, hukuman terhadap seseorang tidak boleh berlebihan dengan tujuan agar yang lain tidak berbuat, tapi hukuman harus setimpal dengan perbuatan pelaku.

Dalam perjalanan pulang dari Pengadilan Tinggi ke Pengadilan Negeri, Mulyono melihat anak-anak sekolah yang pulang ke rumah mereka masing-masing dengan ceria. Mulyono bergidik mengingat korban narkoba di Indonesia yang berjumlah 50 orang perhari, berarti sebulan sekitar 1500 orang, dan setahun sekitar 18 ribu orang, sedangkan, di dunia, ada sekitar 200 juta orang yang meninggal. Berhadapan dengan korban yang banyak ini, patut kah Acai dihukum mati ?

Banyaknya korban meninggal menjadi fokus perhatian Mulyono. Bagaimana masyarakat tidak dendam, pengedar narkoba ini membunuh begitu banyak orang untuk keuntungannya sendiri. Dalam penelitian Mulyono, bos pengedar membeli narkoba hanya sekitar USD 250 per kilogram dari petani, setelah di pasaran, narkoba yang sama akan berharga USD 250 ribu, atau seribu kali lipat dari harga di tingkat petani. Harga ini membubung ke angkasa karena adanya larangan. Semakin undang-undang keras menghukum pelaku narkoba, harga itu akan semakin tinggi, dan jika harga semakin tinggi, seluruh jaringan pengedar akan berpesta pora. Mulyono terhenyak di sandaran jok mobil, dan pikirannya semakin jauh terlibat dalam perkara ini. Memang harus dia akui bahwa ini pertama kali, dia menyidangkan perkara seberat ini.

Tiba-tiba dia mendengar suara Gunawan yang memanggil-manggil, rupanya dia tertidur selama perjalanan dari Pengadilan Tinggi ke Pengadilan Negeri. Ada rasa lega dalam dadanya setelah mengetahui bahwa dia tidak lagi berada di ruangan Ketua Pengadilan Tinggi. Dia merasa sangat tertekan tadi, dan kata-kata mutasi ke papua, masih terngiang dalam kepalanya. Tekanan semacam ini bukan sekali dua, namun dipanggil oleh Ketua Pengadilan Tinggi, barulah dia rasakan kali ini. Dari mobil, Mulyono langsung ke ruang sidang Cakra, karena masih ada 3 perkara yang harus dia sidangkan hari ini, dan biasanya sidang berakhir sekitar pukul 20:00.

 

Mengenai rasa keadilan masyarakat, apakah patut dipertimbangkan dalam membuat keputusan ? Apakah lima puluh orang meninggal setiap hari akibat narkoba tidak patut

Dibaca 239 kali
Ditandai sebagai
Dilisensi sebagai Atribusi (CC BY)
Petrus Fadjarbhakti R Pemula di Hukumpedia.com

Contact
Location Kota Jakarta Timur
Posts 1
2015-12-17 08:44:18

Kalau peluang untuk kembali ke jalan yang benar, kita definisikan sebagai Hak Untuk Bertobat, maka alur berpikirnya akan menjadi lain. Hak Untuk Bertobat ini sudah saya sampaikan kepada Prof Muzakkir, Dosen UII, melalui WA. Tapi beliau masih setuju dengan Hukuman Mati. Dan pendapat itu sangat saya hargai. 2015-12-16 9:16 GMT+07:00 Hukumpedia < comment.96eda3cbf8e871e9848fc7f2179b93d3.5670c9893f6d91f330a289e3@hukumpedia.mailgun.org -- *Petrus FR * PT Indoguna Utama, Jalan Taruna Nomor 8, Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta 13430, Indonesia, Telpon: +62-21-8610550, Fax : 021-8610542, Email :

2015-12-17 08:41:11

Kalau dari sisi keadilan, sepertinya membunuh dan dibunuh terasa adil. Tapi kalau membunuh itu hal salah, dan kemudian kita ikut membunuh (melalui hukuman mati) yah sama-sama melakukan kesalahan dong. Menurut saya dalam hal membunuh, yang adil adalah pembunuh itu harus disuruh "menggagalkan" pembunuhan yang lain. 2015-12-16 8:53 GMT+07:00 Hukumpedia < comment.6baac0f21598df118a7d5c0a1fa993f5.5670c42f3f6d91f330a289d6@hukumpedia.mailgun.org -- *Petrus FR * PT Indoguna Utama, Jalan Taruna Nomor 8, Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta 13430, Indonesia, Telpon: +62-21-8610550, Fax : 021-8610542, Email :

2015-12-16 16:13:40

masih belum ngerti dengan adanya hukuman mati, saya heran kenapa ada hukuman itu ya mas @petrus_fr

2015-12-16 09:16:41

sabar bro @giogio coba kondisikan seandainya orang yang bakal di hukum mati itu adalah keluarga lu atau bahkan lu sendiri. gua setuju sama bro @petrus_fr mungkin beliau memikirkan hal demikian, lagi juga bener kok setiap orang punya salah, dan ada peluang untuk kembali ke jalan yang benar. bukan begitu mas @petrus_fr ?

2015-12-16 08:53:51

buat gua, hukuman mati itu harus ada. gini aja ya, misalnya ada orang yang membunuh, hukumannya ya juga harus dibunuh lah mas @petrus_fr itu baru hukuman yang adil. di cerita ini juga menurut gua bagusnya sih di hukum mati aja.

2015-12-15 22:58:40

Wah setuju banget nih pak @petrus_fr menurut saya pun hukuman mati itu gak berguna. Sayangnya penegakan hukum di Indonesia sepertinya masih belum bisa adil pada semua pihak. Saya pun heran siapa yang mencetuskan hukuman mati, karena ini bukanlah keputusan yang beradap.

2015-12-15 15:15:09

Dulu saya juga setuju hukuman mati bu, tapi belakangan, saya sadari bahwa manusia dapat saja berubah menjadi baik. Kenapa ??? Karena kita adalah ciptaan Tuhan, maka berangkat dari situ, jika seseorang dihukum mati, maka Hak Bertobat nya dicabut. Menurut saya, apapun, seorang manusia tidak dapat dikalkulasi dengan cara apapun kemanusiaannya. Misalnya kita berhitung-hitung, lebih baik seorang manusia mati atau dimatikan dan sejuta lainnya selamat. Hidup kan tidak matematis seperti itu. Yang manusia harus lakukan adalah menyelamatkan sejuta satu orang itu. Satu manusia pun tidak boleh dikorbankan untuk alasan apapun. Maafkan pendapat saya itu bu. 2015-12-15 15:04 GMT+07:00 Hukumpedia < comment.438b67efd92cae518de48ebac739a016.566fc9a93f6d915f58a28b1c@hukumpedia.mailgun.org -- *Petrus FR * PT Indoguna Utama, Jalan Taruna Nomor 8, Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta 13430, Indonesia, Telpon: +62-21-8610550, Fax : 021-8610542, Email :

2015-12-15 15:04:57

Cerpennya bagus mas @petrus_fr tapi entah kenapa saya setuju dengan adanya hukuman mati. Karena kalau kasusnya sudah seperti ini, efek jera sepertinya jurang dapat diandalkan. Kalau gak dihukum mati, yang ada nanti diulangi lagi kesalahannya.

2015-12-15 13:50:06

Terima kasih mas, Aidan Markus. Pertemuan saya dengan bapak Anton Medan, sangat dalam kesannya, sehingga beliau selalu menjadi sumber inspirasi. Mngkn sbg rasa terima kasih saya juga kepada beliau, sehingga cerpen itu lahir. Terima kasih yang sama untuk Hukumpedia.com yang selalu berusaha berbuat sesuatu untuk dunia hukum kita yang masih jauh dari ideal. 2015-12-15 13:33 GMT+07:00 Hukumpedia < comment.7e02a1da1847ae69ca9239640548b4a8.566fb4473f6d91b37ea28a02@hukumpedia.mailgun.org -- *Petrus FR * PT Indoguna Utama, Jalan Taruna Nomor 8, Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta 13430, Indonesia, Telpon: +62-21-8610550, Fax : 021-8610542, Email :

2015-12-15 15:18:44

Betul bu Anastasia. 2015-12-15 14:55 GMT+07:00 Hukumpedia < comment.3df83afab4ab1a02f8e118a858608921.566fc7593f6d916c58a28b3e@hukumpedia.mailgun.org -- *Petrus FR * PT Indoguna Utama, Jalan Taruna Nomor 8, Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta 13430, Indonesia, Telpon: +62-21-8610550, Fax : 021-8610542, Email :

2015-12-15 14:55:05

jadi ini cerita nyata ya mas @petrus_fr ?

2015-12-15 13:33:43

saya setuju dengan hakim mulyono, tidak sembarang mnegambil keputusan apalagi mnyangkut nyawa orang lain, keren mas @petrus_fr cerpennya

Topik Pilihan
Topik Terhangat
Artikel Hukumonline.com