Novel Baswedan dan Sikap Anti korupsi
Skor 1
by Miko Susanto Ginting - 04/11/2017, 11:55

Entah mengapa pertautan dengan Novel Baswedan adalah kondisi teror dan situasi mencekam. Mereka yang hidup untuk sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri, teror akan menjadi kawan karib yang kerap mengunjungi. Termasuk juga jika berani bicara tidak kepada mereka yang punya kuasa seperti koruptor dan kroninya.

Pertemuan pertama saya dengan Novel Baswedan terjadi pada 2012. Ketika itu kami (yang kemudian dinamakan Semut Rangrang oleh Busyro Muqoddas, Ketua KPK saat itu) sedang bersama-sama melawan upaya serangan balik terhadap KPK. Novel yang saat itu masih menjadi personil Kepolisian dengan pangkat perwira menengah berani menyidik perkara perwira tinggi di institusinya sendiri, Irjen (Pol) Djoko Susilo.

Perlawanan datang mulai dari upaya kriminalisasi hingga penjemputan paksa ke kantor KPK. Upaya itu gagal setelah masyarakat membuat benteng hidup di depan kantor KPK. Sekaligus memaksa Presiden saat itu (SBY) membuat pernyataan untuk menunda sementara pengusutan kasus Novel.

Banyak rumor yang beredar bahwa Novel punya agenda untuk mendiskreditkan Kepolisian pada kasus itu. Padahal, kalau ingin aman-aman saja, Novel bisa saja ogah untuk mendorong kasus itu. Apalagi jika motifnya mengincar karir. Novel adalah salah satu perwira Kepolisian yang berprestasi yang kalau bermain aman akan sampai pada posisi yang enak bagi sebagian orang.

Dengan adanya kasus ini, Novel akhirnya memilih keluar dari Kepolisian. Langkah yang lagi-lagi berani. Sekaligus menandakan garis tegas perlawanan Novel terhadap korupsi melebihi solidaritas korps dan garis karir yang cemerlang.

Keberanian yang juga ia tunjukkan kembali akhir-akhir ini dengan "melawan" atasannya di KPK. Hingga akhirnya berbuah surat peringatan yang kemudian ditarik oleh pimpinan KPK.

Pertemuan berikutnya adalah sesudah KPK menetapkan calon Kapolri saat itu (Komjen Pol Budi Gunawan) sebagai tersangka. Gelombang kriminalisasi bermunculan secara masif. Mulai dari pimpinan KPK, aktivis anti korupsi, hingga penyidik KPK (salah satunya Novel Baswedan).

Novel ditangkap dan rumah serta istrinya digeledah. Padahal Novel sendiri bukan tim penyidik di kasus itu. Entah mengapa nama Novel sama dengan ancaman bagi pelaku korupsi.

Namun, memang benar kondisi kritis membuat siapa sebenarnya kita muncul. Novel yang saya tahu tidak mencla-mencle melawan korupsi.

Kepada kami yang dekat dan kerap membelanya saja, Novel sangat paham arti rahasia jabatan. Ia tidak pernah menceritakan kasus apa yang sedang ia sidik, siapa saja yang terlibat, dan bagaimana gambaran kasusnya. Bahkan pada meeting yang sangat tertutup dan rahasia.

Kalaupun ia bicara kasus, anda bisa cek dan ternyata ia hanya menceritakan apa yang sudah diberitakan media. Yang jarang menelusuri berita akan merasa bahwa dapat info A1 padahal sudah ada sebelumnya. Ia paham betul akan kode etik dan rahasia jabatan. Ia menghargai pekerjaannya lebih dari sekedar sebuah pekerjaan.

Maka itu, ia terlihat begitu marah ketika disebut saksi dalam kasus E-KTP melakukan intimidasi. Kasus yang akhir-akhir mengalami ekskalasi yang cukup tinggi.

Ia juga menjaga nilai anti korupsi sebagai ibadah. Novel kerapkali sholat di Masjid sekitar 100 meter dari rumahnya. Hal yang kemudian menjadi kesempatan penyiraman air keras pagi tadi.

Pada 2014, saat ia ditangkap, kami sempat berbincang dengan istri dan keluarganya. Kami yang sangat panik sampai beli nasi padang yang banyak sekali, disambut dengan sangat tenang oleh keluarganya. Sangat tenang. Istrinya bilang, "Mas Novel selalu bilang ke saya dan anak-anak kalau pekerjaan saya ini jihad. Jadi harus siap lahir dan batin!".

Serangan sepertinya juga sudah diprediksi Novel. Keluarganya punya protokol darurat jika kondisi darurat. Saya sangat kagum pada keluarga ini. Semua tahu harus melakukan apa dan menerima peristiwa buruk bisa saja terjadi. Novel dan keluarga bukan tipikal yang ingin menjadi perhatian bagi orang lain.

Sederhana adalah kata kunci Novel dan keluarga merawat nilai antikorupsinya. Pada 2014, sempat ada framing bahwa Novel kaya, punya dua rumah di perumahan mewah, dan seterusnya.

Yang benar adalah bahwa dia memang tinggal di kawasan yang terkenal dengan perumahan mewah tetapi di luar perumahan itu. Rumahnya di tepi kali (atau parit) dan memang baru saja direnovasi. Rumah yang satu yang jaraknya memang berdekatan adalah rumah saudaranya.

Ia kerap pergi ke kantor dengan sepeda motor. Kami berulang kami menyampaikan kepadanya kalau hal itu sangat berbahaya. Beberapa kejadian juga pernah menimpa dirinya saat dalam perjalanan.

Tapi ia membalas dengan senyum saja. Istrinya di rumah menjual baju-baju muslimah. Ketika 2014, kami yang sudah sangat panik, disambut dengan sangat tenang oleh istrinya. Sambil bercerita soal kejadian penangkapan dan penggeledahan secara rinci, ia juga menceritakan tentang barang jualannya yang makin laku karena sistem online.

Entah mengapa bisa sangat sederhana seperti itu. Padahal kalau mau nyaman, Novel punya saudara yang juga perwira. Punya saudara yang tokoh politik. Hingga menyandang nama besar kakeknya, A.R Baswedan. Artinya punya banyak kondisi yang membuat ia bisa nyaman saja menjalani hidup.

Tidak, saya tidak mencoba untuk menempatkan Novel Baswedan sebagai "dewa". Saya hanya coba berbagai cerita kalau ada orang yang berani dan memilih jalur anti korupsi secara konsisten. Ia bernama Novel Baswedan.

Pertanyannya kini: seberapa gerah kita hingga berani angkat suara melawan korupsi?

Kita tidak perlu menjadi Novel. Kita hanya perlu menjadi diri sendiri yang berani bicara: saya anti korupsi dan saya sama sekali tidak takut!

Dibaca 428 kali
Dilisensi sebagai Atribusi (CC BY)
Miko Susanto Ginting Pemula di Hukumpedia.com

Contact
Location
Posts 6
2017-04-11 15:25:24
Super viral
2017-04-12 09:55:23
kau lek
Topik Pilihan
Topik Terhangat
Artikel Hukumonline.com