Membangun Kesadaran Mahasiswa dalam Menyikapi Persoalan Agraria
Skor 0
by Fitri Lestari - 12/19/2016, 10:05

Undangan Untuk Seluruh Umat Manusia Yang Peka terhadap Persoalan Rakyat

(untuk disebarkan seluas-luasnya)

 

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMY & LSAH (Lembaga Studi Advokasi Hukum) Proudly Present :

NGOPI 3 (Ngobrol Pintar Intelektual 3) :

Tema : AGRARIA "Membangun Kesadaran Mahasiswa dalam Menyikapi Persoalan Agraria"

 

PEMBICARA :

  1. Ayif Fathurrahman, S.E., M.Si. (Dosen FEB UMY)
  2. Lembaga Bantuan Hukum Yogyakarta
  3. Martono (Warga Kulon Progo)

MODERATOR : Fikri Anggriono

 

Hari, Tanggal : Selasa, 20 Desember 2016

Waktu : 12.00 WIB-17.00 WIB

Tempat : Mini Theater Gd. D Lt. 4 - UMY

 

Hiburan :

  1. Live Music

 

FREE ENTRY | Free Coffee, Tea and Snack

 

Narahubung : 085290342262 (Dana Nurrahman)

 

Demikian kami dari BEM FEB UMY dan LSAH juga menyampaikan Suplementary Reading yang dapat dibaca oleh kawan-kawan semua. Suplemen bacaan untuk diskusi agraria "Membangun Kesadaran Mahasiswa dalam Menyikapi Persoalan Agraria" kami sampaikan dibawah ini;

 

Ya! Ada yang jaya, ada yang terhina. Ada yang bersenjata, ada yang terluka.

Ada yang duduk, ada yang diduduki. Ada yang berlimpah, ada yang terkuras.

Dan kita disini bertanya: “Maksud baik saudara untuk siapa? Saudara berdiri di pihak yang mana?

Rendra, dari Sajak Pertemuan Mahasiswa

Sejak adanya UU Penanaman Modal Asing No 1 tahun 1967 (sekarang menjadi Undang-Undang No.25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal) pemodal asingpun hijrah ke negeri Indonesia yang kaya akan sumber daya alamnya. Eksploitasi sumber daya alampun dapat dengan mudah dilakukan. Korporasi mengeksploitasi alam secara besar-besaran, misalnya PT Freeport yang mengebor minyak, tambang, nikel, emas dan seluruh sumber daya alam yang ada di tanah Papua.       

Praktik eksploitasi terhadap sumber daya alam merampas kehidupan masyarakat sekitar. Ia juga menghancurkan produktivitas rakyat yang selama ini mempertahankan hidup dengan cara mengelola alam. Praktik tersebut bahkan dilakukan dengan cara kekerasan. Korporasi dan pemerintah setempat memaksa rakyat untuk menerima kebijakan yang hanya disepakati oleh korporasi dan pemerintah itu sendiri. Korporasi dan pemerintah bahkan tidak bertanggungjawab terhadap kelangsungan hidup masyarakat yang sudah dirampas tempat hidupnya.

Data Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) pada 2014 menyebutkan, terjadi 472 konflik agraria dengan luas tanah sengketa mencapai 2.860.977,07 hektar dan melibatkan sebanyak 105.887 kepala keluarga di seluruh Indonesia. Jumlah kasus itu jauh lebih banyak dibandingkan tahun 2013 yang mencapai 369 kasus dan 198 kasus pada tahun 2012. Peningkatan jumlah konflik ini diikuti dengan jumlah korban konflik agraria dimana pada 2014 korban tewas mencapai 19 orang, tertembak 17 orang, luka akibat dianiaya 110 orang dan petani serta aktivis yang dikriminalisasikan berjumlah 256 orang.

Upaya mempertahankan kepentingan agraria demi kehidupan alam terus menerus digelorakan oleh rakyat yang tertindas. Falsafah hidup jawa, sadhuruk bathuk sanyari bumi, yen perlu ditohipati, yang memiliki makna bahwa setiap jengkal tanah yang dimiliki merupakan harga diri dan kehormatan yang akan dipertahankan mati-matian, terus dipegang teguh oleh rakyat yang tertindas terkhusus bagi petani yang dirampas lahannya.

Perlawanan meletup-letup di setiap daerah yang tak luput dari rakusnya sistem kapitalisme dengan kedok pembangunan yang merampas tanah rakyat. Ibu-ibu Kendeng menolak pembangunan PT Semen Indonesia yang masih bercokol di tanah Kendeng. Para petani Kulonprogo yang tergabung dalam organisasi Wahana Tri Tunggal tak henti-hentinya menolak tanpa syarat tanahnya dijual untuk pihak pemerintah setempat yang akan membangun Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Temon, Kulon Progo. Warga Urut Sewu juga menolak perampasan tanah oleh korporasi dan militer, dan perlawanan-perlawanan lainnya yang lahir untuk membela tanahnya yang selama ini adalah tempat untuk bertahan hidup.

Konflik-konflik agraraia tersebut sejatinya dapat mengusik konsentrasi para penuntut ilmu pengetahuan dan seharusnya dapat membangun kesadaran mahasiswa akan pentingnya membela kaum yang tertindas. Sense of crisis pada diri pribadi mahasiswa seharusnya muncul guna menawarkan solusi atas persoalan yang terjadi. Dengan adanya penderitaan rakyat, seharusnya mahasiswa ikut andil untuk membelanya karena pemerintah tak lagi peduli akan penderitaan rakyat.

Kampus dapat menjadi suatu media tempat mahasiswa mewakili suara-suara rakyat. Mahasiswa sebagai manusia yang berintelektual sejatinya memikirkan ketidakadilan yang terjadi disekitarnya. Beberapa mahasiswa memang sudah melakukan diskusi dan memikirkan solusi untuk perubahan negara agar memiliki keberpihakan dengan rakyat. Namun sayangnya belum banyak mahasiswa yang ikut andil di dalamnya.

Mahasiswa sebagai agent of change (agen perubahan) dapat menebar dan menyalakan suara rakyat demi negara yang bepihak pada nilai kerakyatan. Gelombang protes sosial dari mahasiswa dan rakyat dapat menjadi senjata utama bagi elemen-elemen masyarakat untuk menyuarakan aspirasinya ketika saluran-saluran konvensional seperti partai dan palemen tidak legitimate di mata sosial. Protes sosial merupakan elemen penting gerakan sosial masyarakat sipil sebagai perwujudan bahwa mahasiswa dan masyarakat adalah social control atas sikap dan kebijakan pemerintah yang mengecewakan rakyat.

Prof. DR. Selo Soemardjan sebagai pembicara seminar tentang; “Depresiasi Nilai-Nilai Etika dan Moral dalam Penyelenggaraan Pembangunan” di UI pada tanggal 18 April ’98. Beliau mengatakan bahwa gerakan mahasiswa memiliki andil dalam bersuara atau menyatakan pendapat yang secara konstitusi didasari atas Pasal 28 UUD 1945 berbunyi “Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebaginya ditetapkan dengan undang-undang.”

Mahasiswa harus bersatu membangun kekuatan untuk menembus pikiran-pikiran kolot para pemerintah. Mahasiswa harus bersemangat untuk dapat menumbuhkan action yang positif. Mahasiswa adalah moral force menuju perbaikan. Maka dari itu mahasiswa harus bersatu untuk melawan korporasi dan pemerintah yang dengan mudahnya menggerus sumber daya alam Indonesia dan menindas rakyatnya sendiri.

 

BEM FEB UMY & LSAH.

Dibaca 104 kali
Dikategorisasi sebagai Sumber Daya Agraria
Ditandai sebagai
Dilisensi sebagai Atribusi (CC BY)
Fitri Lestari Pemula di Hukumpedia.com

cannot sleep before read!


Contact
Location Kota Yogyakarta
Posts 17
2016-12-27 11:03:19
sukses yaaa acaranya!
2016-12-21 10:22:48
wuahhh menarik banget nih, tapi jauh banget
2016-12-20 15:38:37
Menarik sekali d bahas, isu agraria nasional d hadapkan pd kondisi kekuasaan dan power kaum pemodal vs tanah tanah rakyat
2016-12-19 10:35:36
ini menarik, apalagi kalau temanya soal agraria dan investasi
Topik Pilihan
Topik Terhangat
Artikel Hukumonline.com