Jika WNA Menjadi Calon Presiden Republik Indonesia Tahun 2054
Skor 0
by Narpati Wisjnu Ari Pradana - 08/18/2016, 08:56

 

Alkisah, Fulan Ibnu Harits al-Amri dilahirkan di tahun 2004 di Cisarua dari seorang ibu penduduk lokal. Ayahnya, seorang saudagar dari Hadramaut yang senang berkunjung ke Indonesia dan akhirnya menetap di Indonesia. Pada tahun 2014, ayah Fulan, meninggal dunia ketika Fulan masih berusia 10 tahun.


Fulan, anak Indonesia yang pintar, cerdas, ramah, baik hati, dan tidak sombong. Di sekolah nilainya selalu tinggi-tinggi. Selain belajar ilmu-ilmu sains dan eksakta, ia juga menunjukkan minat pada sejarah, hukum dan tata negara, serta agama dan budaya. Ia akhirnya masuk ke jurusan arsitektur di salah satu perguruan tinggi negeri bereputasi tinggi di Indonesia.

Pasca lulus, Fulan sempat bekerja selama lima tahun dan kemudian bergabung dengan salah satu partai. Sebagai kader partai, ia dikenal menampilkan wajah ramah terhadap siapapun dan mau bersahabat dengan siapapun sehingga partai-partai berbeda ideologi pun segan dan ramah padanya. Ia juga dikenal hidup sederhana dan merakyat sehingga banyak orang yang mengenal dia. Ia mengidolakan Agus Salim dan memiliki slogan yang sama, "Leiden is lijden" (memimpin adalah menderita).

Pada tahun 2039, Fulan dicalonkan partainya untuk menjadi bupati sebuah daerah yang cukup miskin. Ternyata daerah tersebut sudah mengenal Fulan sehingga perjalanannya ke kursi bupati cukup mulus tanpa halangan. Selama lima tahun kemudian, ia mengubah kabupatennya menjadi daerah makmur dengan pengolahan kekayaan alam yang berkesinambungan dan bertanggung jawab.

Pada tahun 2046, Fulan dicalonkan untuk menjadi calon gubernur Daerah Khusus Ibukota Palangkaraya, daerah bergengsi dengan banyaknya duit berseliweran sebagai pusat bisnis dan pusat pemerintahan. Fulan adalah calon terkuat untuk menjadi calon gubernur yang baru sehingga musuh-musuhnya pun kelabakan. Mereka mencari isu korupsi dalam sejarah pemerintahannya sebagai bupati dan gagal. Fulan adalah bupati terbersih se-Indonesia di periode 2040-2045. Fulan bahkan memilih untuk tidak mencalonkan diri kembali sebagai bupati, melepaskan jabatannya pada bupati lain di pilkada 2045.

Musuh-musuh Fulan akhirnya melacak jejak masa kecil Fulan dan mendapati bahwa Fulan pernah memiliki paspor Yaman di masa kecilnya. Menggunakan dalil pasal 23 Undang-Undang no. 12 tahun 2006, musuh-musuh Fulan menyatakan, Fulan telah kehilangan status WNI-nya dan KTP yang dipegangnya selama 25 tahun terakhir tidak sah dan harus dicabut. Warga Palangkaraya pun geger dan meminta penyelidikan lebih lanjut tentang status kewarganegaraan calon terkuat gubernur mereka.


Menteri Hukum dan HAM, yang ternyata kader salah satu partai dari koalisi saingan Fulan, mengungkap fakta bahwa ibunda Fulan tidak pernah mendaftarkan Fulan dalam jangka empat tahun seperti yang diamanatkan oleh ketentuan peralihan Pasal 41 UU no. 12 tahun 2006 dan batas waktu itu telah lewat. Dengan penuh rasa percaya diri, Menkumham berpendapat bahwa Fulan adalah warga negara asing dan tidak berhak mengikuti pemilihan gubernur.

Partai-partai yang mengusung Fulan tidak habis akal, dengan gerak cepat mereka meminta proses naturalisasi Fulan merujuk pada fakta bahwa calon mereka telah tinggal di Indonesia selama lebih dari 5 tahun. Dengan dukungan publik yang luas, maka proses naturalisasi Fulan sebagai warga negara Indonesia pun terjadi dengan sangat cepat dan Fulan mendapatkan status WNI-nya kembali, ikut serta dalam pilkada Daerah Khusus Ibukota Palangkaraya di tahun 2047 dan terpilih dengan persentase jumlah pemilih terbanyak dalam sejarah.

Enam tahun kemudian, Fulan dikenal sebagai gubernur terbaik DKI Palangkaraya sehingga partainya berminat menariknya ke jenjang yang lebih tinggi yakni Pemilihan Umum 2054. Sayangnya, ketika mendaftarkan ke Komisi Pemilihan Umum, mereka diingatkan bahwa syarat menjadi Presiden Indonesia adalah WNI asli sementara Fulan adalah WNI hasil naturalisasi.

Karir politik Fulan pun terhenti di tingkat propinsi karena kelalaian sang ibu untuk mendaftarkan Fulan di kementerian dan rakyat Indonesia tidak akan pernah melihat Fulan menjadi presiden mereka walaupun mereka tahu Fulan memiliki potensi menjadi presiden terbaik dalam hidup mereka.

Fulan pasrah menerima hal itu dan berceramah di Masjid Raya Darussalam bahwa jabatan itu bukanlah sesuatu untuk dikejar melainkan sebuah amanat yang berat.


Usai menjabat sebagai Gubernur, Fulan menulis buku dan kemudian difilmkan oleh salah satu perusahaan film milik keluarga Punjabi yang legendaris. Film biografi Fulan ternyata mencetak rekor sebagai film Indonesia yang paling banyak menggaet penonton.

TAMAT

PENYANGKALAN: Fulan Ibnu Harits al-Amri tidak pernah dilahirkan melainkan hanya dalam khayalan ini. Segala persamaan nama dan tempat di dunia nyata hanyalah kebetulan belaka. Cerita ini hanyalah cerita fiksi belaka.

 

Dibaca 412 kali
Dikategorisasi sebagai Fiksi dan Ulasan
Ditandai sebagai
Dilisensi sebagai Atribusi (CC BY)
Narpati Wisjnu Ari Pradana Pemula di Hukumpedia.com

A father, a husband, and a programmer.


Contact
Location Kota Jakarta Selatan
Posts 5
2016-08-22 11:51:16
Wakakak yang ini bikin gue bingung, seandainya beneran, pilih mana ya?
2016-08-23 10:31:47
Pilih yang agak mendingan dari yang terburuk. Atau golput sekalian.


Toh, pilihan kita menang atau tidak, kalau presidennya salah, tetap aja sebagai rakyat kita bakal ngomel-ngomel, kan?
2016-08-22 11:08:12
hmmm, kayak ceritanya si itu
2016-08-19 11:29:49
Jadi menyalonkan siapa bang?
2016-08-23 10:31:03
Petahana sudah jelas lewat Golkar, kan? Cuma sedang ngeklaim dapat dukungan tambahan dari PDIP.
2016-08-22 11:58:32
PHP ya bang.. Kayak kasusnya om Gubernur Jkt skrg
2016-08-19 13:31:42
Pilkada atau pilpres 2054?

Kalau pilkada, masih nunggu dulu nih. PDIP seperti biasa, selalu tebar harapan ke sana kemari.
2016-08-18 10:39:31
hampir sama ya mas hehehe sama kenyataan sekarang hahaha
2016-08-18 16:43:24
Emang diilhami dari dua kejadian kemarin. Hehehehe.
Topik Pilihan
Topik Terhangat
Artikel Hukumonline.com