HIDUP SEDERHANA
Skor 0
by Ketut Darpawan - 12/03/2017, 03:14

Setelah satu dekade, saya masih percaya bahwa hidup sederhana adalah satu cara terpenting untuk melawan bibit bibit perilaku korup di dalam diri. 

Pegawai negeri, penyelenggara negara, pejabat negara, kepala daerah, dsb, yang mendapatkan gaji dari negara, umumnya penghasilannya tidak terlalu besar.  Fasilitas yang diperoleh sebagian besar dari mereka juga minim. Pegawai di sektor swasta juga sama sebenarnya. Kecuali yang levelnya sudah tinggi.

Cara menjalani hidup seharusnya disesuaikan dengan kemampuan. Untuk menghindari tekanan yang berlebihan pada keadaan keuangan, maka kita disarankan memenuhi kebutuhan hidup yang penting-penting saja. Dalam situasi itupun kita masih punya banyak pilihan, memilih yang harganya atau ongkosnya lebih murah, namun tidak mengurangi fungsinya atau manfaatnya. Ini soal manajemen saja.

 Tren saat ini adalah, orang ingin cepat kaya. Sering sekali mengabaikan rasio dan terbius dengan ungkapan-ungkapan seperti “rezeki nanti pasti akan datang, tidak usah terlalu banyak perhitungan ketika akan mulai bekerja atau berkeluarga.” Dalam merencanakan akan punya anak berapa, bagi pasangan suami istri juga sebenarnya punya implikasi yang besar nantinya bagi keuangan keluarga.

Tapi gerak langkah tidak sesuai dengan keinginan cepat kaya itu, entah karena malas atau memang tidak menguasai banyak ilmu untuk mengumpulkan banyak uang dalam waktu yang singkat dengan cara yang benar. Atau mungkin ada sebab sebab lain.

Apa lagi? Oh ya, misalnya, karena tidak mau ketinggalan memiliki rumah, lalu memaksakan diri berhutang agar bisa memiliki rumah (apalagi jika selera lebih tinggi dari kemampuan). Penghasilan hampir habis untuk membeli rumah, lalu kebutuhan sehari hari sulit terpenuhi. Tekanan semakin tinggi.

Jika salah perhitungan, salah merencanakan, mengatur keuangan, akhirnya yang terjadi adalah, penghasilan tidak cukup untuk hidup mandiri. Kebutuhan yang tidak penting terpenuhi, tapi yang pokok malah tidak. Ada yang punya banyak anak, tapi terlantar.

Belum berhenti di situ, gaya hidup mewah yang lain ikut membebani keuangan keluarga.  Penghasilan tidak berusaha ditingkatkan, tapi pengeluaran bertambah banyak. Ketika anak anak makin besar, biaya juga bertambah.

Dalam keadaan seperti itu, pilihan cara cepat akan terlihat memudahkan dan menjadi solusi sementara, sekalipun resikonya tinggi. Korupsi!.

Kewenangan atau kekuasaan disalahgunakan.  Di sektor swasta sebenarnya sama saja. Pegawai membohongi atasannya.  Melakukan perebuatan curang sehingga keuntungan masuk kantong pribadi,  bukan masuk ke perusahaan dulu.  Jadi semuanya dilakukan dengan cara tidak perlu bekerja lagi di luar jam kantor. Tidak perlu menghabiskan waktu luang, dan tidak perlu mengeluarkan tenaga lagi. Setelah merasasakan enaknya cepat mendapatkan uang haram, mulai dari hadiah-hadiah, uang ucapan terima kasih, sampai suap dan yang lainnya yang lebih jahat, maka segeralah itu menjadi kebiasaan.

Ini masalah sosial yang sedang menjadi tren. Persoalan pokoknya tidak mampu mengekang keinginan yang berlebih-lebihan. Saya tidak punya teori untuk semua orang. Ini seperti menjawab pertanyaan “bagaimana caranya berhenti merokok?” Kalau ada yang bertanya kepada saya, saya biasanya menjawab, “ya berhenti saja”. Dan cerita-cerita yang membumbui perjalanan menuju berhenti merokok itu hanya hiasan saja.

Lalu mungkin akan ada pertanyaan lain, "yang korupsi dan masuk penjara itu kok rata rata yang sudah kaya raya? Lahir di keluarga kaya dan mereka sepertinya tidak punya masalah ekonomi. Apa yang terjadi?

Saya pikir mereka mungkin punya masalah yang berbeda. Punya sifat rakus yang sulit diubah, (sehingga seharusnya mereka tidak bisa lolos atau dibiarkan menduduki jabatan-jabatan penting dalam pelayanan publik), terjebak dalam lingkaran pergaulan yang buruk,  takut kehilangan jabatan atau pertemanan, atau punya masalah kejiwaan semacam kleptomania.  Yang terakhir ini tidak punya alasan khusus mengapa melakukan korupsi, pokoknya senang saja dan mendapatkan kepuasan jika bisa mengambil atau menguasai sesuai yang bukan haknya.

 

Dibaca 37 kali
Dikategorisasi sebagai Hukum dan Masyarakat
Ditandai sebagai
Dilisensi sebagai Atribusi (CC BY)
Ketut Darpawan Pemula di Hukumpedia.com

Tempat lahir : Singaraja

Pendidikan : S1 Ilmu Hukum, Universitas Udayana

Pekerjaan : Hakim Pengadilan Negeri Waingapu (2007-2010)

Hakim Pengadilan Negeri Semarapura (2010-2014)

Hakim Pengadilan Negeri Situbondo (2014-sekarang)

Kontak :

e-mail : darpawan[at]yahoo[dot]com

website : darpawan.wordpress.com


Contact
Location Situbondo
Posts 8
Topik Pilihan
Topik Terhangat
Artikel Hukumonline.com