Hukuman Mati Menurut Pandangan Hukum Islam
Skor 1
by Aidan Surya Setiawan - 03/08/2017, 01:20

mUuHEDcI3N3gWz_tVj3-JP7soQ3vRsNy.jpg

Membicarakan hukuman mati dalam perspektif Islam, berarti membicarakan persoalan syariat itu sendiri, yakni agama Islam mempunyai sistem sendiri yang bagian-bagiannya saling bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan. Sumbernya adalah tauhid yang menjadi inti dari akidah. Dari akidah itu mengalir syariah (syariat) dan akhlak Islami.

Ketiganya (akidah, syariah, dan akhlak) laksana bejana yang berhubungan. Syariah dan akhlak, seperti telah disebut di muka, mengatur perbuatan dan sikap seseorang baik di lapangan ibadah maupun di lapangan muamalah.

Syariat, seperti telah disinggung dalam uraian terlebih dahulu, terdapat di dalam Al Quran dan kitab-kitab hadis. Kalau kita berbicara tentang syariat, yang dimaksud adalah wahyu Allah dan Sunnah Nabi Muhammad sebagai Rasul-Nya. Artinya, hukuman mati memang sudah diatur sejak jaman Nabi Muhammad hidup untuk di jatuhkan kepada pelaku yang memang pantas untuk mendapatkannya sebagai konsekuensi dari perbuatannya tersebut.

Karena perbuatan yang dilakukan oleh seseorang, bisa saja merupakan peristiwa hukum, yang artinya peristiwa tersebut atau perbuatan yang dilakukan oleh orang itu memiliki akibat hukum.

Walaupun menurut ajaran agama Islam masih memberlakukan hukuman mati, akan tetapi tetap ada batasan-batasan dan ketentuan-ketentuan yang sangat detail terhadap orang yang akan dijatuhi hukuman tersebut sehingga tidak dapat sembarang saja menghukum orang dengan pidana mati menurut agama Islam.

Terlepas dari itu, dalam hukum Islam khususnya pidana, mengenal Asas Keadilan, Asas Kepastian Hukum, dan Asas Kemanfaatan, yakni dalam melaksanakan asas keadilan dan kepastian hukum, seyogyanya dipertimbangkan asas kemanfaatannya, baik bagi yang bersangkutan sendiri maupun bagi kepentingan masyarakat.

Dalam menerapkan ancaman hukuman mati terhadap seseorang yang melakukan pembunuhan, misalnya, dapat dipertimbangkan penjatuhan hukuman itu bagi diri terdakwa sendiri dan bagi masyarakat.

Kalau hukuman mati yang dijatuhkan itu lebih bermanfaat bagi kepentingan masyarakat, hukuman itulah yang dijatuhkan. Kalau tidak menjatuhkan hukuman mati lebih bermanfaat bagi terdakwa sendiri dan keluarga atau saksi korban, ancaman hukuman mati dapat diganti dengan hukuman denda yang dibayarkan kepada keluarga terbunuh. Asas ini ditarik dari Al Quran surat Al Baqarah (2) ayat 178.

Pada intinya hukuman mati tersebut lebih bermanfaat diberlakukan atau tidak, jika bagi masyarakat hukuman mati lebih baik dijatuhkan bagi terdakwa, karena misalkan jika si terdakwa pada akhirnya mati, dan tidak berkeliaran lagi di lingkungan masyarakat, maka masyarakat akan menjadi lebih tenang dan damai. Artinya berpengaruh terhadap psikologis masyarakat luas.

Maka hukuman mati tersebut bisa saja di timpakan kepada terdakwa. Jika tidak berpengaruh banyak bagi masyarakat, dalam artian tidak banyak bermanfaat bagi masyarakat luas, maka hukuman mati dapat digantikan dengan denda.

Islam sangat menghargai kehidupan di atas muka bumi ini, baik manusia maupun makhluk hidup lainnya seperti binatang dan tumbuh-tumbuhan. Oleh sebab itu, manusia sebagai makhluk yang diciptakan paling sempurna dari setiap makhluk lainnya harus merawat dan menjaga setiap ciptaan Allah tersebut. Oleh sebab itu, diturunkanlah Al Quran sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan tersebut.

Dalam Al Quran terkandung unsur-unsur hukum pidana dan perdata yang mengatur kehidupan manusia dari sejak lahir sampai meninggal dunia, dan Islam sangat menghargai setiap nyawa manusia, bahkan tidak diperkenankan untuk menyakiti ataupun menghilangkan nyawa manusia kecuali atas sebab yang benar.

Dapat diketahui bahwa agama Islam tidak melarang dan mengharamkan adanya hukuman mati sebagai hukuman terberat bagi terdakwa. Hal ini dibuktikan dengan adanya hukuman tersebut di Negara-negara yang berlandaskan pada Al Quran sebagai pedoman utama kehidupan mereka, misalnya Arab Saudi. Hanya saja dalam menjalankan hukuman tersebut, terdapat berbagai macam prosedur yang harus dilalui.

Jika hukuman selain mati masih dapat dijalankan, hukuman mati menjadi pilihan terakhir yang dilaksanakan untuk terdakwa. Hal ini karena agama Islam menghargai nyawa setiap umat manusia.

Meskipun di Indonesia hukuman mati mendapat berbagai tanggapan, baik pro dan kontra dari para aktivis HAM dan masyarakat yang menentang hal tersebut, tetapi Pemerintah Indonesia tetap melaksanakan hukuman tersebut dan diatur dalam pasal 10 KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana).

Dibaca 245 kali
Ditandai sebagai
Dilisensi sebagai Atribusi (CC BY)
Aidan Surya Setiawan Pemula di Hukumpedia.com

A Law Student of Bina Nusantara University


Contact
Location Kota Jakarta Selatan
Posts 2
2017-03-09 09:30:23
gantinya hukuman mati ternyata denda yang jumlahnya nggak akan bisa dibayar. Intinya, apa betul hendak dimaafkan?
2017-03-09 11:53:55
Terima kasih atas pertanyaan yang diajukan, menurut saya hukuman mati dapat diganti dengan denda apabila ada kesepakatan antara kedua belah pihak, yaitu pihak keluarga korban dengan pelaku. Hal ini berbalik dari kepada kedua pihak itu, akan tetapi jika kesepakatan ini tidak tercapai, maka bisa saja hukum pidana akan berlaku bagi pelaku.
Denda dapat diberlakukan atas dasar asas kemanfaatan dalam Hukum Islam, sehingga daripada mengorbankan satu nyawa, lebih baik pelaku tetap hidup (jika masyarakat tidak terganggu atas kehadiran pelaku dan pelaku berjanji tidak akan mengulanginya kembali). Untuk masalah dimaafkan atau tidak, hal itu subyektif dan kembali kepada keluarga, akan tetapi pelaku harus menanggung akibat hukum dari Negara berupa sanksi pidana yang jenis pidananya diatur dalam pasal 10 KUHP.

Demikian pemaparan saya,
Terima kasih.
Topik Pilihan
Topik Terhangat
Artikel Hukumonline.com