Tentang Persidangan Terbuka untuk Umum
Skor 0
by Guntoro Eka Sekti - 12/22/2016, 08:23

Awalnya

Beberapa hari ke depan sepertinya stasiun televisi akan kembali menayangkan secara langsung proses persidangan peradilan pidana. Dengan telah dinyatakan lengkap berkas penyidikan yang kemudian diikuti penyerahan berkas perkara berikut tersangka dari penyidik ke penuntut umum. Oleh penuntut umum ternyata segera dibuatkan surat dakwaan dan dilimpahkan ke pengadilan. Setelah kemudian diregister dan diberikan nomor akan ditunjuk majelis hakim yang menyidangkan dan selanjutnya ditetapkan hari sidang, maka akan dimulailah proses persidangan sampai dengan nantinya dijatuhkan putusan. (itu jika normal ya, siapa tahu seperti yang dulu-dulu oleh penuntut umum dihentikan penuntutannya atau bahkan sudah dilimpahkan ke pengadilan ditarik kembali dan tidak dilanjutkan penuntutannya).

Jalannya persidangan perkara pidana sendiri sih tidak menarik, setidaknya menurut saya, yang menarik adalah materi atau isu dugaan tindak pidana yang akan disidangkan dalam proses peradilan pidana tersebut. Entah apakah siaran tersebut nantinya termasuk iklan (yang harus bayar ke stasiun televisi) atau sebaliknya, semacam hak siar (sehingga stasiun televisi yang harus bayar), jika yang terakhir yang benar, entah bayarnya ke siapa, penuntut umum, terdakwa atau penasehat hukumnya atau malah ke pengadilan? Entahlah. Untuk perkara “kopi sianida” saja sudah sebegitu hebohnya, apalagi untuk perkara dugaan penistaan agama yang akan segera memasuki proses persidangan. Perkara yang terakhir jelas, akan lebih punya nilai jual untuk ditanyangkan televisi, nga percaya? Untuk gelar perkara penyidikannya saja sudah dilakukan dengan tidak lazim, secara terbuka.

 

Persidangan Terbuka Untuk Umum

Menyaksikan jalannya persidangan, terlebih yang disiarkan langsung stasiun televisi (seperti dalam perkara “kopi sianida&rdquo seketika yang teringat adalah prinsip persidangan yang terbuka untuk umum (tentu dengan pengecualian persidangan yang memang ditentukan tertutup untuk umum). Entah sejak kapan prinsip terbuka untuk umum itu mulai ada, yang jelas dahulu persidangan terbuka untuk umum, dimaksudkan orang-orang dapat menghadiri dan masuk ke dalam ruang sidang dan mengikuti jalannya persidangan (itu juga dengan beberapa aturan yang berisi larangan selama mengikuti jalannya persidangan) dengan tertib agar tidak mengganggu kelancaran persidangan.

Dalam praktek (setidaknya lebih dari sepuluh tahun mengikuti banyak proses persidangan perkara pidana) tidak banyak perkara pidana yang menarik sehingga menyedot perhatian banyak orang. Jauh lebih sering kursi pengunjung ruang sidang hanya diisi oleh petugas kejaksaan yang melakukan penjagaan terhadap terdakwa yang sedang disidangkan, selain karena terdakwa tidak dikunjungi oleh keluarganya atau memang “korban” sudah tidak perduli dengan proses hukum yang terjadi. Mungkin hanya hitungan jari tangan (plus jari kaki sendiri, klo kurang pinjam jari tangan dan kaki pembaca ya) perkara yang menarik perhatian banyak orang.

Pengalaman soal itu adalah ketika menangani perkara pembunuhan, selama jalannya persidangan diikuti oleh banyak orang, tidak saja dari keluarga besar korban akan tetapi juga dari keluarga terdakwa dan tentu saja media yang meliputnya (untungnya tidak disiarkan secara langsung). Sebesar-besarnya ruang sidang, tentu tetap akan terbatas daya tampungnya, tentu sebatas kapasitas tempat duduk yang disediakan untuk itu (nga ngerti klo kemudian kursi dikeluarkan dan digelar tikar kemudian duduk bersama, husss memangnya piknik keluarga).

Terbatasnya kapasitas tempat duduk dalam ruang sidang, memaksa untuk membatasi jumlah pengunjung hanya sejumlah kapasitas tempat duduk yang ada. Sedangkan yang tidak dapat mengikuti dari dalam, disediakan layar besar sehingga dapat menyaksikan persidangan dari luar gedung pengadilan. Apakah selesai persoalan, ternyata tidak, ketika kumpulan massa dari dua kelompok yang berhadap akan mudah menimbulkan gesekan yang dapat menjadi benturan. Kapasitas tempat duduk juga harus dibagi secara adil dari pihak terdakwa dan korban, agak mudah untuk ini karena biasanya kursi ruang sidang utama sebelah kanan dan sebelah kiri dipisahkan oleh space ruang untuk keluar dan masuk pengunjung sidang. Hal yang sama juga harus dilakukan untuk pengunjung sidang yang tidak dapat masuk dan mengikuti persidangan diluar gedung pengadilan melalui layar besar yang disediakan.

 

Pengaruh Kemajuan Teknologi Informasi Dalam Proses Persidangan

Perkembangan terakhir, kemajuan teknologi infrormasi banyak membawa pengaruh pada proses persidangan. Beberapa diantaranya sudah mulai banyak diterapkan di pengadilan adalah penggunaan teleconference untuk melakukan pemeriksaaan saksi dalam ruang yang berbeda (salah satunya untuk memeriksa anak korban) maupun penggunaan aplikasi ATR (Audio to Text Recorder) dalam proses di persidangan. Terkait dengan prinsip persidangan terbuka untuk umum adalah dengan penayangan proses persidangan secara langsung dari awal sampai dengan pembacaan putusan, sebagaimana siaran langsung persidangan Jessica “kopi sianida” sedikit banyak telah merubah kesakralan persidangan. Dengan alasan sidang terbuka untuk umum, ketertiban dan kehikmatan persidangan telah terdegradasi. Tidak saja telah menyulap ruang persidangan yang khidmat, menjadi layaknya tempat shooting sinetron, selain berjubelnya pengunjung sidang, yang seringkali karena tidak kebagian tempat duduk, memaksakan diri berdiri (bersyukur tidak ada yang membawa tikar atau koran bekas untuk duduk di lantai). Space ruang sidang juga harus dibagi dengan tripod (penyangga) kamera televise (tentu dengan beberapa perlengkapan lighting atau lampu) untuk mendukung hasil sempurna sebuah siaran langsung. Sayang, saya tidak dapat mengkonfirmasi apakah yang terlibat dalam persidangan tersebut (penuntut umum, terdakwa dan penasehat hukumnya, serta majelis hakim) juga diberikan dukungan ‘make up artis’ sebelum melaksanakan tugasnya.

Beberapa ketentuan hukum acara (pidana) sesungguhnya sadar atau tidak sadar telah dilanggar dengan penyiaran secara langsung proses persidangan, terutama sewaktu pemeriksaan saksi-saksi dan/atau ahli. Siaran langsung persidangan, terutama sewaktu pemeriksaan saksi-saksi dan/atau ahli, akan bersinggungan dengan ketentuan yang mewajibkan Hakim untuk mencegah agar jangan sampai saksi berhubungan saksi dengan yang lain sebelum memberikan keterangan di sidang.

Dahulu persidangan adalah konsumsi publik yang khidmat mengikutinya sebatas kemampuan tempat duduk di ruang sidang. Dengan penayangan persidangan secara langsung bahkan realtime, maka semua orang dapat mengikuti dengan menyaksikannya di semua tempat. Analisa dan komentar dapat muncul dari lingkup keluarga yang menyaksikannya di ruang keluarga, sampai kepada pengamat yang menyaksikannya dari kafe-kafe mewah, dari sekedar obrolan ringan di warung-warung kopi hingga diskusi serius di ruang-ruang stasiun televisi. Singkatnya semua dapat menjadi hakim bagi perkara tersebut, tentu dengan pertimbangan dan fakta hukum yang dapat digalinya sendiri.

 

Tentang Tafsir Persidangan Terbuka Untuk Umum

Tidak mudah memang mencari definisi dan arti dari persidangan terbuka untuk umum. Dalam berbagai peraturan perundangan yang menyebutkan istilah itu, dalam penjelasannya menyebutkan cukup jelas, referensi soal itu juga tidak mudah ditemukan (itu sewaktu saya cari di mbah google, mau cari di buku, belum sempat membuka bungkusan kardus buku sewaktu mutasi kemaren). Hanya saja ketika menyaksikan tayangan persidangan melalui stasiun televisi sebagaimana yang sedang ramai saat ini, menimbulkan pertanyaan dalam hati, apakah hakekat sesungguhnya dari persidangan yang terbuka untuk umum itu? apakah berarti ruang sidang harus dibuka semuanya (padahal mayoritas ruang sidang menggunakan AC) dan orang boleh berada didalamnya (meski harus berdiri atau bahkan duduk di lantai?).

Lebih sayang lagi, belum berkesempatan membandingkan dengan persidangan di negara lain baik yang Eropa Kontinental maupun Aglo Saxon atau bahkan Komunis sekalipun (berharap rekan-rekan yang berkesempatan untuk itu berkenan membagikannya kepada saya, jika malu boleh inbox di facebook atau klo perlu kirim surat anonym ya). Hanya saja dari beberapa referensi yang ada, tidak pernah ada persidangan yang disiarkan langsung sebegitu massifnya. Jangankan disiarkan langsung, mengambil foto persidangan saja tidak diperkenankan, dan hanya diperbolehkan membuat sket jalannya persidangan saja.

Jika mengacu pada hal tersebut, kiranya perlu ada tafsir resmi atas arti dari persidangan terbuka untuk umum itu sendiri. Ini menjadi penting, karena tanpa ada tafsir yang resmi soal sejauh mana arti dari persidangan terbuka untuk umum itu, kasihan nanti Hakim jika menghadapi persoalan yang demikian. Salah-salah malah jadi sasaran empuk Komisi Yudisial jika ternyata beda tafsir soal penerapan prinsip persidangan terbuka untuk umum karena dianggap menghalangi hak publik untuk memperoleh informasi.

 

Akhirnya

Sudah panjang ternyata, nga baik jika makin dipanjangkan (nanti dikira cucunya mak erot). Tidak perlu pula terlalu serius membacanya, apalagi sampai harus dicerna atau dipahami bahkan juga tidak perlu sampai di amalkan. Semua sekedar menindaklanjuti salah satu hikmah dalam tulisan terdahulu, yaitu soal penayangan sebuah persidangan yang memakan durasi begitu lama. Selain itu, sebenarnya cuma alasan agar dapat menghindar dari ‘perintah’ untuk menyanyi, karena di ruang sebelah sedang berlangsung acara pengantar tugas rekan yang promosi. Selamat menantikan dan menyaksikan live show siaran langsung persidangan perkara pidana jilid II dan untuk yang promosi selamat semoga sukses di tempat baru. Semoga.

 

Tegal, 2 Desember 2016, bertepatan dengan Aksi Bela Islam III

Dibaca 129 kali
Dikategorisasi sebagai Administrasi Peradilan
Dilisensi sebagai Atribusi (CC BY)
Guntoro Eka Sekti Pemula di Hukumpedia.com

suka menulis yang nga enak dibaca dan nga perlu, buat mereka yang nga ngerti yang enak dan perlu


Contact
Location Kabupaten Pemalang
Posts 6
2016-12-27 10:59:37
biar dapat penghasilan tambahan karna live di youtube
2016-12-23 15:42:59
jadi menurut bang @iganz_es baiknya bagaimana?
2016-12-23 14:23:48
Kok agak gak adil dan gak merata ya bang? untuk beberapa orang kayaknya dijadikan isu besar dan sampe live, tapi kok untuk kasus tertentu terkesan ditutup2i ya?
2016-12-23 11:39:15
Pertanyaannya apa pendapat MA soal siaran live yang terus menerus di kasus Jessica? Sepertinya MA diam dan tidak berbicara ya
Topik Pilihan
Topik Terhangat
Artikel Hukumonline.com