Pandangan Hukum Islam Terhadap Transplantasi Organ
Skor 0
by Albert - 01/22/2018, 09:52

Tranplantasi ialah pemindahan organ tubuh manusia yang memiliki daya hidup sehat untuk menggantikan organ tubuh yang sudah tidak sehat atau berfungsi dengan baik. Di era modern seperti sekarang tentu hal ini sudah banyak dilakukan bagi orang-orang yang memiliki masalah pada organ tubuh mereka tersebut untuk memperoleh kesehatan. Ali Hasan (2000: 121)

Dalam islam transplantasi bisa dikategorikan urusan duniawi. Karena jika  kita amati, tidak ada dalil baik dari al-Qur’an ataupun hadits. Lalu bagaimana hukum mendonorkan organ tubuh untuk di transplantasi?

Allah berfirman: “Dan tolong menolonglah kamu dalam berbuat kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS. Al-Maidah 5 :2)

Dari firman tersebut maka mendonorkan organ tubuh untuk ditransplantasi itu boleh. Namun perlu diperhatikan,dalam mendonorkan organ,organ tersebut bukanlah organ vital,yang jika organ tersebut di ambil maka akan menimbulkan kematian bagi pendonor.

Namun organ tubuh adalah sebuah pemberian dari Allah SWT hal ini menimbulkan pertanyaan apakah kita boleh untuk memberikan organ kita terhadap orang lain begitu saja. Dalam hal ini tentu ada beberapa masalah etik dan moral dalam transplantasi ada beberapa pihak yang ikut terlibat adalah :

  1. Pendonor, sebelum dilakukan donor terlebih dahulu orang tersebut harus bersedia untuk mendonorkan organ atau jaringan dan mengerti semua resiko.
  2. Keluarga, setelah pendonor bersedia maka pihak keluarga juga harus menyatakan bersedia jika ingin dilakukan donor untuk transplantasi organ.
  3. Dokter, dalam konteks ini dokter berperan untuk mengecek organ yang akan didonorkan dalam kondisi sehat atau tidak serta berperan melaksanakan transplantasi organ.
  4. Resepien, pihak yang menerima donor juga harus setuju bahwa akan menerima organ atau jaringan dari si pendonor

Dalam masalah donor organ ini ada 2 kaidah yang perlu difahami yaitu menghilangkan mudlorot (bahaya) dan mudlorot tidak bisa dihilangkan dengan timbulnya mudlorot yang lebih besar.

Dengan memahami 2 kaidah tersebutlah ulama mengambil hukum dalam masalah ini.

Berdasarkan 2 kaidah tersebut Dr. Yusuf Al-Qardhawi mengklasifikasikan organ apa yang dibolehkan untuk didonorkan dan mana yang dilarang.

Berikut klasifikasi yang dilarang didonorkan menurut beliau:

  1. Organ tubuh yang satu-satunya. seperti : jantung, hati dan otak.
  2. Organ tubuh yang berada diluar. seperti : mata, tangan dan kaki
  3. Organ tubuh dalam yang yang berpasangan, karena organ yang berpasangan dianggap satu organ (hidayatullah.com/2014)

Beberapa ulama berpendapat, tubuh manusia sejatinya adalah milik Allah SWT. Seseorang tidak bisa sesuka hatinya memperlakukan tubuhnya sendiri karena tubuh tersebut adalah milik Allah. Manusia hanya diberikan hak pakai, bukan hak milik. Ia tak boleh menzalimi dirinya sendiri, menjatuhkan dirinya dalam kebinasaan karena tubuhnya adalah milik Allah SWT.

Namun, soal donor darah yang sudah menjadi kebutuhan dharuriah (darurat) umat manusia, ulama yang berpendapat demikan pun diam. Ada aspek kemaslahatan dari donor darah sehingga kebolehan donor darah mendapatkan ijma' sukuti (ulama bersepakat tanpa ada komentar positif atau negatif). Inilah yang menjadikan donor darah dapat diterima syara'. 

Kebanyakan dari para pemerhati masalah transpalnasi ini ketika membahas hukum mereka akan mengklasifikasikan kapan transplantasi itu dilakukan, menurut Prof. Masyfuk Zuhdi, Apabila pencangkokan tersebut dilakukan pada saat pendonor dalam

keadaan hidupsehat wal afiat, begitu juga sakit (koma) atau hampir meninggal,  maka hukumnya adalah dilarang (haram), sedangkan apabila di lakukan ketika pendonor sudah meninggal maka hukumnya ada yang mengharamkan,[7] juga ada yang memperbolehkannya dengan syarat- syarat tertentu.[8]  Adapun syarat-syarat tersebut adalah :

  1. Resipien dalam keadaan darurat, yang dapat mengancam jiwanya dan ia sudah menempuh pengobatan secara medis dan non medis, tapi tidak berhasil. 
  2. Pencangkokan tidak menimbulkan komplikasi penyakit yang lebih berat bagi repisien dibandingkan dengan keadaan sebelum pencangkokan.

dapat kita simpulkan bahwa transplantasi organ tubuh dalam pandangan hukum islam disituasi tertentu diperbolehkan jika pendonor masih dalam keadaan hidup maka tidak diperbolehkan jika merugikan kepada pihak pendonor maupun resipien. Dan apabila pendonor dalam kondisi meninggal hal itu tentu diperboleh jika memperoleh izin dari pihak keluarga atau ahli waris, pihak resipien harus dalam kondisi dimana jalur pengobatan medis lainnya sudah tidak dapat dilakukan maka diperbolehkan untuk menerima organ dari orang yang sudah meninggal.

Namun berbeda untuk orang yang sedang sekarat atau sudah hamper meninggal pendonor (mata, ginjal atau jantung) tidak diperbolehkan karena terdapat pada Hadis Nabi riwayat Malik dari ‘Amar bin Yahya, riwayat Al-Hakim, Al-Baihaqi, dan Al-Daruqutni dari Abu Sa’id al-Khudri. Dan untuk mendonorkan organ-organ vital seperti jantung, hati, dan kedua paru-paru yang merupakan organ penentu kelangsungan hidup hal itu tidak diperbolehkan untuk cangkokan kecuali pihak pendonor sudah meninggal dunia.

 

 

 

Dibaca 96 kali
Dikategorisasi sebagai Hukum dan Masyarakat
Ditandai sebagai
Dilisensi sebagai Atribusi (CC BY)
Albert Tamu di Hukumpedia.com

MAHASISWA HUKUM BINUS


Contact
Location bekasi timur
Posts 0
Topik Pilihan
Topik Terhangat
Artikel Hukumonline.com