Advokat/Pengacara Indonesia saat ini
Skor 0
by ID Edyson - 03/07/2017, 11:40

Advokat/Pengacara saat ini merupakan profesi yang menjadi primadona di Indonesia. Suatu profesi dibidang hukum yang dahulu dipandang sebelah mata serta tidak populer di kalangan masyarakat Indonesia. Orang Tua dahulu mempunyai keinginan anaknya untuk menjadi Dokter, Insinyur dan sedikit orang tua yang menginginkan anaknya untuk dapat menjadi seorang Advokat/Pengacara. Bagi mereka Advokat/Pengacara adalah profesi yang tidak menjanjikan dan tidak menjamin kehidupan. Fakultas Hukum (FH) sebagai cikal bakal seseorang untuk menjadi Advokat/Pengacara dahulu juga dipandang sebagai fakultas "cadangan" dan pilihan terakhir apabila tidak diterima di Fakultas Kedokteran dan fakultas lainnya. Hanya beberapa orang saja yang terus dapat bertahan dan memberikan seluruh dedikasi dalam hidupnya untuk menjadi seorang Advokat/Pengacara di Indonesia. Hal ini seperti Advokat/Pengacara legendaries Indonesia yaitu Besar Martokoesoemo yang merupakan seorang Advokat/Pengacara pertama diIndonesia dan tentunya Yap Thiam Hien seorang Advokat/Pengacara yang masih menjadi panutan bagi banyak Advokat/Pengacara saat ini. 

Profesi Advokat/Pengacara yang dahulu sempat dianggap suatu profesi yang tidak menjanjikan dan tidak terdapat jaminan hidup tersebut kini berubah. Hal tersebut kini berubah. Tidak sedikit masyarakat yang berlomba-lomba ingin masuk Fakultas Hukum (FH) dengan tujuan agar menjadi Advokat/Pengacara. Mereka rela mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk kuliah Sarjana Hukum, Pendidikan Khusus Profesi Advokat, biaya penyumpahan dan biaya-biaya lainnya yang tentukan tidak sedikit. Fakultas Hukum "kebanjiran" mahasiswa sehingga sekarang terdapat banyak universitas-universitas yang membuka fakultas hukum. Ketertarikan masyarakat kepada profesi Advokat/Pengacara disebabkan oleh berita-berita yang muncul di media cetak dan media elektronik perihal profesi Advokat/Pengacara dengan kekayaannya seperti memiliki kendaraan mahal, berpenampilan mewah, dll.  Sebut saja Hotma Paris Hutapea, Hotmal Sitompul, dan Advokat/Pengacara  lainnya yang hilir mudik di televisi dengan semua penampilan mewah mereka. Banyak calon Advokat/Pengacara yang ingin seperti mereka.

Seorang untuk menjadi seorang Advokat/Pengacara harus melalui proses yang tidak sebentar serta memakan biaya yang tidak sedikit. Mulai dari kuliah di Fakultas Hukum, menjadi Sarjana Hukum, mengikuti Pendidikan Khusus Profesi Advokat, Ujian Advokat yang tidak terdapat jaminan untuk lulus, Magang selama beberapa waktu sampai dengan Pengangkatan atau pengambilan sumpah di pengadilan untuk menjadi seorang Advokat/Pengacara. Persyaratan tersebut ditambah dengan bahwa batas minimal seorang dapat menjadi Advokat/Pengacara adalah minimal berumur 25 tahun.

Proses seleksi alam menjalani profesi Advokat/Pengacara terjadi. Seseorang Advokat/Pengacara yang kuat untuk menjalani proses akan bertahan, sedangkan yang lemah lambat laun akan mundur sedikit demi sedikit. Hal ini dibuktikan dari ratusan ribu sarjana hukum, ribuan yang mengikuti Pendidikan Khusus profesi advokat, Ujian Advokat, Magang, Pengangkatan atau pengambilan sumpah di pengadilan. Mungkin hanya ratusan orang yang masih setia hidup dalam dunia Advokat/Pengacara dan yang lainnya sudah berubah profesi baik karena keinginan pribadi atau karena panggilan orang lain. 

Organisasi Advokat yang merupakan pintu masuk seseorang untuk menjadi seorang Advokat/Pengacara sekarang begitu banyak. Organisasi demi organisasi advokat baru lahir bagaikan lumut di musim hujan. Kelahiran organisasi advokat Indonesia lebih banyak disebabkan oleh perbedaan pendapat pengurus sehingga pengurus yang sakit hati tersebut keluar dari satu organisasi dan membuat organisasi yang baru. Organisasi yang baru tersebut pun mengalami perbedaan pendapat antar pengurus sehingga pengurusnya pun keluar dan membuat organisasi advokat yang baru. Pendidikan Khusus profesi advokat, Ujian Advokat yang dahulu yang hanya dapat diselenggarakan oleh satu organisasi advokat tertentu sekarang dapat dilaksanakan oleh banyak organisasi advokat. Tidak lulus di salah satu organisasi dapat mencoba di organisasi lainnya. Tinggal memilih mana organisasi advokat yang menawarkan proses yang mudah, dengan biaya yang murah dan mudah serta bisa dengan cepat menjadi Advokat/Pengacara. Semua hal tersebut menyebabkan profesi Advokat/Pengacara kini bagaikan menjual kacang dan minuman. Tidak terdapat lagi standard atau kualifikasi yang jelas untuk menjadi seorang Advokat/Pengacara. Masing-masing organisasi advokat hanya sibuk masalah pribadi mereka yaitu dengan "mencari Eksistensi" sehingga seperti melupakan awal mula tujuan pendirian organisasi yaitu melahirkan profesi Advokat/Pengacara yang professional serta disebabkan oleh "Keras Kepala/egois" dan serta "gila jabatan" sebahagian/segelintir dari pengurus organisasi advokat. Hal ini melahirkan sebuah pertanyaan bahwa bagaimana melahirkan Advokat/Pengacara yang profesional sedangkan organisasi advokat tersebut hanya sibuk sendiri dan tidak fokus dalam menentukan standard atau kualifikasi yang jelas untuk menjadi Advokat/Pengacara. Persoalan ini apabila terus menerus terjadi dapat menyebabkan kewibawaan profesi advokat/pengacara hancur sampai ketitik nadir dan menyebabkan profesi yang mulia (officium nobile) ini menjadi menjadi profesi yang hilang wibawanya.

"Karena nila setitik rusak susu sebelanga".   

 

Dibaca 281 kali
Dikategorisasi sebagai Karir dan Profesi Hukum
Ditandai sebagai
Dilisensi sebagai Atribusi (CC BY)
ID Edyson Pemula di Hukumpedia.com

mencoba mencerahkan biarpun masih belajar


Contact
Location Kota Medan
Posts 4
2017-03-09 09:28:57
Ah nggak segitunya juga kali bang
Topik Pilihan
Topik Terhangat
Artikel Hukumonline.com