Polisi Kok Pintar
Skor 0
by Herman Hasyim - 01/30/2017, 04:34

“Saya tidak setuju dan tidak mau tanda tangan!” kata Professor Junaedi dengan mendelik. Bola matanya nyaris segede bola biliar.

Kerutan di jidatnya menyerupai barisan cacing ketika ia membaca kalimat terakhir dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang berbunyi: “Hingga disinilah dulu pemeriksaan dibuat kemudian dibaca oleh yang diperiksa dan yang diperiksa menyatakan setuju serta untuk menguatkannya yang diperiksa membubuhkan tanda tangan dibawah ini”.

“Ini pemaksaan kehendak, Saudara-saudara! Tidak bisa.... tidak bisa... “

Dua penyidik di depannya, yang satu berpangkat Kompol dan satunya lagi berpangkat Ipda, saling pandang. Penyidik berpangkat Kompol menarik nafas panjang, lalu mencubit satu gundukan jerawatnya. Di sebelah kirinya, penyidik berpangkat Ipda memelototi layar laptopnya, dengan jemari serasa masuk ke colokan listrik.

Dua anggota pasukan “Turn Back Crime” itu jelas dilanda jengkel. Apa sih susahnya tanda tangan, pikir mereka. Lagi pula, ini sudah menjelang pukul 12. Saatnya makan siang. Betapapun kondisi negara sedang demam dan batuk-batuk, jeritan perut tiap-tiap warga negara toh harus didengarkan. Dan Professor sialan itu, dengan rambutnya yang seperti habis diacak-acak kucing, seharusnya memahami keadaan ini.

“Maaf, Pak Prof,” kata penyidik berpangkat Kompol sambil melirik jam tangan made in China-nya, “Adakah kekeliruan dalam BAP ini?”

“Tidak keliru, tapi ngawur semua!!”

Tangan Prof Junaidi mencoret-coret BAP tiga lembar itu. Memperdekat jarak kursi yang didudukinya dengan meja yang dipakainya bertiga, ia kemudian menyodorkan hasil koreksiannya itu kepada penyidik berpangkat Kompol.

“Tolong Saudara baca kalimat ini,” pintanya.

“Baik, Prof,” kata penyidik berpangkat Kompol. “Melakukan pemeriksaan dan atau meminta keterangan dari seorang saksi ahli yang bernama...”

“Stop!”

Hening.

“Saya tanya: Saudara-saudara ini memeriksa saya sebagai apa?”

“Sebagai saksi ahli, tepatnya saksi ahli bahasa hukum,” penyidik berpangkat Ipda membuka mulutnya yang masih ada bau rokok kretek.

“Saudara-saudara sudah berapa tahun jadi polisi? Belajar hukum di mana, hah?! Tidak ada itu istilah saksi ahli. Saksi ya saksi, ahli ya ahli. Menggabungkan saksi dan ahli sama halnya dengan mencampurkan minyak wangi dengan minyak goreng. Mengerti?!”

“Iya, Prof,” kata penyidik berpangkat Kompol, dengan suara diperpelan, persis ketika diomeli istrinya saat tanggal tua tiba. “Jadi, yang betul cukup ditulis ahli saja ya, Prof?”

“Iya! Terus, coba Saudara perhatikan. Benar nggak tuh penggunaan kata ‘dan atau’ dan kata penghubung ‘dari’ dalam kalimat tersebut? Itu ngaco! Saudara-saudara bisa diketawain maling kerbau.”

Hening lagi.

“Yang benar itu,” Prof Junaedi makin gigih berceramah,”penulisannya ‘dan/atau’, bukan ‘dan atau’. Kemudian, meminta keterangan itu bukan ‘dari’, tapi ‘kepada’. Ngerti?!

“Iya, Prof,” penyidik berpangkat Kompol menunduk dalam-dalam, sebagaimana saat ia ditangkap basah istrinya sedang memesan susu kental manis di warung janda sebelah, pada pukul 10, malam Jumat Wage.

“Baru dalam satu kalimat, Saudara-saudara telah membuat tiga kengawuran. Sedangkan BAP ini memuat tidak kurang dari 30 kalimat. Apa saya harus menyampaikan 90 kengawuran kalian, hah?!”

“Tidak perlu, Prof. Yang penting-penting saja.”

“Baiklah. Saudara perhatikan ini,” katanya, dengan menunjuk kalimat yang tertulis di bagian awal BAP: Pada hari ini Senin tanggal 30 Januari 2000 tujuh belas (30-1-2017) sekitar pukul 10.00 WIB.

Menurut Prof Junaedi, bahasa hukum tidak begitu. Jika ingin memakai bahasa hukum ala notaris, semua angka harus diaksarakan atau dibuat menjadi kata-kata, guna menghindari keberagaman tafsir. Tapi ini tidak.

“Bahasa Saudara seperti gado-gado yang dijual di emperan terminal. Bumbunya bercampur dengan debu dan asap knalpot bocor,” kata guru besar yang dalam riwayat hidupnya tertulis telah menerbitkan empat buku bahasa hukum itu. Di Gramedia, tiga judul bukunya berhasil masuk dalam daftar buku obral.

Prof Junaedi menyodorkan dua alternatif yang lebih baik terhadap bahasa hukum gado-gado itu: Hari Senin, tanggal 30 Januari 2017, sekitar pukul 10 WIB atau Pada hari Senin tanggal tiga puluh Januari dua ribu tujuh belas...dan seterusnya.

Penyidik berpangkat Ipda, yang sedari tadi sudah kebelet ingin menggasak nasi padang, meminta izin kepada penyidik berpangkat Kompol. Izin selama 10 menit itu diberikan, dengan syarat harus kembali dengan membawa nasi padang sebungkus. Kok cuma sebungkus? Penyidik berpangkat Kompol berpikir, manusia cerewet yang sedang di hadapannya itu tak perlu diberi makan nasi. Lebih cocok disuapi dengan kamus, atau benda-benda lain yang seukuran.

“Saya kira, catatan-catatan Pak Prof sudah cukup jelas, sehingga kami bisa segera memperbaikinya,” kata penyidik berpangkat Kompol. “Jadi, mari kita istirahat dulu.”

“Tidak bisa. Saya tidak ada waktu. Saya harus memberikan banyak penjelasan kepada Saudara, supaya Saudara yang bekerja atas nama negara ini menjadi lebih berwibawa. Apa Saudara ingin melestarikan kengawuran ini hingga tujuh turunan?”

“Cukup tiga turunan, Prof,” penyidik itu menyahut sekenanya, sambil mengelus-elus perut gembrotnya yang terancam kempes.

Melanjutkan ceramahnya, Prof Junaedi mengritik habis-habisan BAP yang dipegangnya, baik dari segi substansi, sistematika maupun tata bahasa. Menurutnya, pertanyaan standar penyidik dalam tahap awal tanya-jawab sangat merendahkan martabat orang yang diperiksa. Penyidik selalu menanyakan kondisi kesehatan terperiksa, fisik maupun psikis, seolah-olah penyidik ragu orang yang ada di hadapannya waras atau sableng, sehat wal-afiat atau jangan-jangan punya penyakit antraks sekaligus kurap.

Prof Junaedi juga geram menemukan terlalu banyak kesalahan penggunaan “di” sebagai kata depan dan sebagai imbuhan yang membentuk kata kerja pasif. “Menurut Saudara, apakah dipenjara itu sama dengan di penjara? Kalau Saudara menganggapnya sama, sebaiknya Saudara besok pagi jangan pakai seragam coklat lagi. Pakailah seragam kemeja putih dan celanda pendek merah.”

Seketika, muka penyidik berpangkat Kompol itu memerah. Kedua tangannya mengepal. Kalau saja proses pemeriksaan itu tidak diintip kamera pengintai, mungkin hidung Prof Junaedi sudah patah jadi dua, puluhan helai rambutnya tercerabut, dan giginya tersisa lima. Untunglah, si penyidik sanggup meredam geramnya, sebagaimana ia selalu sanggup merayu istrinya supaya tidak membuat pertunjukan piring terbang ketika belanja bulanannya kurang.

Prof Junaedi, yang yakin bahwa keselamatan jiwa dan raganya akan senantiasa terjaga, terus saja berceramah. Ia menghardik penyidik yang tidak bisa membedakan kalimat perintah dan kalimat tanya. Dalam BAP, ada kalimat tanya yang diakhiri tanda seru dan ada kalimat perintah yang justru dipungkasi dengan tanda tanya. 

“Saudara perlu belajar beginian tujuh hari tujuh malam nonstop, dan tidak boleh makan dengan menu lain selain nasi dan ikan asin. Agar pinter!”

Muka penyidik yang merah itu kian menyala. Ia membayangkan betapa nikmatnya bisa melemparkan manusia kurang ajar di hadapannya itu ke kandang gorila.

“Kemudian ini, Saudara, perhatikanlah baik-baik. Ini bisa menjadi olok-olokan jaksa dan hakim kalau saudara tidak memperbaikinya. Dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris, tidak ada itu istilah kopi brik dan seken opinien.”

“Itu yang membuat rekan saya yang sedang makan nasi padang,” jawab si penyidik.

“Terserah siapa yang membuat. Yang jelas, Saudara harus paham apa itu homonim, homofon dan homograf. Paham nggak?”

Tidak ada suara yang terdengar, kecuali gemeretak gigi si penyidik.

“Baiklah, sebelum saya akhiri, saya menyarankan Saudara supaya membaca buku-buku tentang bahasa Indonesia, khususnya bahasa hukum. Untuk mendeteksi kesalahan-kesalahan berbahasa, Saudara harus membaca karya-karya JS Babibu.”

“JS Badudu, Prof.”

“Ya, itu maksud saya. Kemudian, untuk memahami seluk-beluk komposisi dan gaya bahasa, Saudara harus baca buku-bukunya Gorys Raweyai”

“Gorys Keraf, Prof.”

“Oh ya, terima kasih telah diingatkan,” kata Prof Junaedi, sambil menggaruk-garuk jidatnya, “Omong-omong, kok mendadak Saudara jadi pinter?”

“Dari dulu saya pinter kok, Prof. Kalau tidak pinter, mana mungkin saya tahu kalau dua buku terakhir Pak Prof adalah hasil plagiasi.”

Prof Junaedi mendelik. Kali ini bola mata ahli bahasa hukum itu nyaris segede bola tenis, yang sedang dipukul keras-keras dan menghantam tiang bendera sampai bengkok.

Jakarta, 30 Januari 2017

Dibaca 2337 kali
Dikategorisasi sebagai Karir dan Profesi Hukum
Ditandai sebagai
Dilisensi sebagai Atribusi (CC BY)
Herman Hasyim Pemula di Hukumpedia.com

Contact
Location
Posts 3
2017-02-08 10:13:58
Wakakaakk Prof nya pintar ya om, tapi Kompol nya juga pintar sih, sayangnya Ipda nya harus belajar nulis lagi tuh hehe
2017-03-23 11:56:02
si prof emang pintar, fani. pintar ngerjain pulisi. hehe
2017-02-06 17:42:59
wahhhhh, saingan mulkidi hahaha
2017-03-23 11:55:28
hehe.... makasih ya Dewitya
2017-02-05 08:16:40
Ancuuurrrr Ini baru polisi gile
2017-03-23 11:56:20
gile dan gulai beda lho ya
2017-02-02 11:05:59
masih menunggu cerita fiksi berikutnya dari @cak_haha
2017-03-23 11:57:05
udah....udah... MENUNGGU itu lagunya Haji Rhoma.

Ini tulisan ane terbaru:

STRATEGI TERDAKWA PENISTAAN JANDA
http://www.hukumpedia.com/cak_haha/strategi-terdakwa-penistaan-janda
2017-02-02 17:00:11
sama, masih menunggu bang
2017-01-31 14:30:26
Cerdas nih cerita fiksinya
2017-03-23 11:57:21
thanks berat, Bung Anggara.
2017-01-31 11:27:38
Lae @erasmus70 nakal

btw bang, ini cerita fiksi yang lumayan menghibur
2017-03-23 11:58:13
fakta yg kuolah jd fiksi. hehe.

thanks, Miko. ini tulisan terbaruku:

STRATEGI TERDAKWA PENISTAAN JANDA
http://www.hukumpedia.com/cak_haha/strategi-terdakwa-penistaan-janda
2017-01-31 10:09:52
Ini pengalaman pribadi bang?
2017-03-23 11:59:05
bukan...bukan.... aku blm pernah berhadapan dgn pulisi, kecuali saat ada operasi lantas.

makasih, Erasmus.

STRATEGI TERDAKWA PENISTAAN JANDA
http://www.hukumpedia.com/cak_haha/strategi-terdakwa-penistaan-janda
Topik Pilihan
Topik Terhangat
Artikel Hukumonline.com